Minyak Dunia Meledak! Selat Hormuz Kembali Mencekam!

Minyak Dunia Meledak! Selat Hormuz Kembali Mencekam!

Redaksibengkulu.co.id melaporkan, pasar minyak global kembali bergejolak hebat setelah Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia, dilaporkan ditutup kembali. Penutupan strategis ini memicu lonjakan harga minyak mentah secara drastis, menyusul memanasnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah sebelumnya anjlok lebih dari 9% pada Jumat (17/4). Pada Senin (20/4/2026) pukul 23.27 GMT, minyak mentah Brent melonjak US$ 6,11 atau 6,76% menjadi US$ 96,49 per barel. Tak kalah, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga merangkak naik signifikan, US$ 6,53 atau 7,79%, mencapai level US$ 90,38 per barel.

Minyak Dunia Meledak! Selat Hormuz Kembali Mencekam!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Pasar minyak terus bergejolak sebagai respons terhadap unggahan media sosial yang berfluktuasi oleh AS dan Iran," ujar Saul Kavonic, Kepala Penelitian MST Marquee, seperti dikutip Redaksibengkulu.co.id.

COLLABMEDIANET

Penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat dibuka, merupakan respons tegas Iran terhadap apa yang mereka anggap sebagai pelanggaran janji oleh Washington. Amerika Serikat dituduh melanjutkan blokade angkatan lautnya terhadap kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju pelabuhan Iran. Bahkan, militer AS dilaporkan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade tersebut, memperkeruh situasi.

Di tengah ancaman serangan udara lagi dari Presiden AS Donald Trump, Iran sendiri menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua pembicaraan damai. Sikap keras kedua belah pihak ini semakin memperburuk prospek stabilitas di kawasan Teluk.

Kavonic menilai pengumuman pembukaan Selat Hormuz sebelumnya terlalu dini dan terkesan tergesa-gesa. Ia memprediksi, para pemilik kapal akan berpikir dua kali untuk kembali melewati jalur strategis tersebut. "Para pemilik kapal akan dua kali lebih berhati-hati untuk kembali menuju Selat tanpa menerima keyakinan lebih besar bahwa setiap pengumuman jalur pelayaran itu benar-benar ada," tambahnya.

Sebagai informasi, sebelum ditutup kembali, lebih dari 20 kapal tercatat melewati Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), membawa berbagai komoditas penting seperti minyak, gas cair, logam, dan pupuk. Data dari Kpler menunjukkan jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1 Maret 2026, menyoroti betapa krusialnya jalur ini bagi rantai pasok energi dan perdagangan global. Eskalasi konflik ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas di seluruh dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar