Redaksibengkulu.co.id – Tak butuh waktu lama, pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump langsung tancap gas. Hanya berselang sehari setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1), Gedung Putih dilaporkan telah memulai pembicaraan intensif dengan sejumlah perusahaan minyak AS. Tujuan utamanya jelas: menggarap potensi energi raksasa Venezuela yang selama ini terhambat.
Informasi ini diungkapkan oleh seorang pejabat senior Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya. Meskipun detail perusahaan yang dihubungi atau waktu persisnya percakapan tersebut belum diungkap, sinyal keseriusan AS sangat kentara. Juru Bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, seperti dikutip dari CNBC pada Selasa (6/1/2026), menegaskan, "Seluruh perusahaan minyak kami siap dan bersedia untuk melakukan investasi besar di Venezuela, yang akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka yang dihancurkan oleh rezim Maduro."
Namun, laporan Reuters sebelumnya menyebutkan bahwa raksasa energi seperti Chevron, Conoco, dan Exxon belum secara resmi berkomunikasi dengan pemerintah AS terkait potensi pasca-Maduro. Kendati demikian, panggung potensial untuk pertemuan penting telah disiapkan. Menteri Energi AS, Chris Wright, dijadwalkan menghadiri konferensi energi yang diselenggarakan oleh Goldman Sachs di Miami pekan ini, di mana eksekutif dari Chevron dan ConocoPhillips juga diharapkan hadir. Ini bisa menjadi ajang lobi dan penjajakan awal yang krusial.

Related Post
Dalam konteks ini, Chevron Corporation menempati posisi yang sangat strategis. Sebagai satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela, jejak langkahnya selama satu abad terakhir tak bisa diabaikan. Meskipun operasionalnya kerap tersendat akibat sanksi AS dan hanya bisa bertahan berkat serangkaian pengecualian, kehadiran Chevron di sana memberikan keuntungan kompetitif yang signifikan. Sekitar seperempat dari produksi minyak Venezuela yang dikelola Chevron bahkan diekspor ke AS.
Keberadaan Chevron yang mengakar kuat di Venezuela diperkirakan akan menjadi tantangan besar bagi pemain baru atau perusahaan yang ingin kembali. Clayton Seigle, Peneliti Senior di Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim di Pusat Studi Strategis dan Internasional, menjelaskan kompleksitasnya. "Anda tidak bisa begitu saja masuk ke Venezuela dan memompa minyak. Ini adalah proses yang sangat sulit dan kompleks yang selama bertahun-tahun telah dikuasai Chevron, sangat sedikit perusahaan yang memiliki teknologi tersebut," ujarnya, dikutip dari CNN. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meskipun pintu Venezuela terbuka, persaingan untuk menguasai ladang minyaknya tidak akan semudah membalik telapak tangan.








Tinggalkan komentar