Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Di balik hiruk pikuk kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tersimpan kisah pilu para penjahit keliling yang gigih berjuang mempertahankan hidup. Dengan mesin jahit tua dan payung lusuh sebagai pelindung dari terik matahari, mereka menggantungkan asa pada setiap jahitan benang dan kain. Namun, realitas pahit seringkali menghampiri: seharian bekerja keras, mereka harus pulang tanpa membawa sepeser pun uang.
Heri (33), salah satu penjahit keliling yang setia mangkal di Jalan Raya Jagakarsa, dekat Pasar Lenteng Agung, telah 15 tahun mengabdikan diri pada profesi ini. Sejak 2011 ia memulai dengan berkeliling dari rumah ke rumah, hingga akhirnya memilih mangkal di satu titik sejak 2019. "Biasanya mangkal dari jam 10 pagi sampai sebelum magrib. Kalau keliling, kadang dari jam 7 pagi, kalau lagi mau," ujar Heri kepada Redaksibengkulu.co.id, Senin (5/1/2026).
Ia mengenang masa sebelum pandemi pada 2020, di mana penghasilan harian bisa mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Kini, angka itu hanya menjadi kenangan. "Sekarang sepi, paling sering cuma dapat Rp 50.000 sehari. Kalau lagi ramai banget, baru bisa Rp 200.000, itu sudah bagus sekali. Malah kadang hampir tidak ada sama sekali," keluhnya. Pendapatan kotor Rp 50.000 itu, lanjut Heri, seringkali hanya cukup untuk menutupi biaya makan, minum, kopi, dan rokok selama seharian penuh bekerja. "Kalau lagi sepi ya paling habis buat makan saja. Ya pulang kosong saja kalau sudah gitu. Namanya juga usaha kan, kadang suka nggak ketebak kapan ramai kapan sepi," tambahnya dengan nada pasrah.

Related Post
Meski omzet usaha anjlok drastis, Heri tetap berupaya mengirimkan dana untuk anak dan istrinya di kampung halaman, meskipun jumlahnya tidak menentu. "Nggak hitung sih sebulan kirim berapa-berapa, usaha kan nggak tentu. Ya biasanya kirim seadanya," ucapnya.
Senada dengan Heri, Lasmina (34), penjahit keliling yang telah delapan tahun mangkal di area yang sama, juga merasakan dampak penurunan omzet. "Alhamdulillah suka dapat Rp 100.000-200.000. Kalau lagi sepi ya Rp 50.000. Tapi ya jarang yang kaya gitu, Alhamdulillah ada saja, tetap ramai tapi nggak seramai dulu," ungkap Lasmina.
Pendapatan tersebut, menurut Lasmina, adalah penghasilan kotor yang harus diputar untuk kebutuhan sehari-hari dan modal kecil seperti benang atau oli mesin jahit. Tantangan terberat baginya datang setelah sang suami, yang juga seorang penjahit, meninggal dunia sekitar satu setengah tahun lalu. "Paling berat ya kalau lagi kumpulin duit buat bayar kontrakan, itu kan bisa sampai Rp 1 juta sebulan. Jadi kalau sudah dekat-dekat bayar kontrakan itu suka kejar target musti kumpulin berapa. Kalau lagi sepi ya mau nggak mau kita suka puasa biar cukup," bebernya. Lasmina memilih berpuasa daripada harus berutang kepada tetangga atau saudara. "Nggak mau saya utang sama tetangga atau saudara, barang Rp 100.000-200.000, belum tentu dikasih, diomongin iya, jadi ya sekarang puasa saja kita kalau sepi," tegasnya.
Kisah Heri dan Lasmina adalah cerminan perjuangan ribuan pekerja informal di ibu kota, yang dengan gigih menghadapi kerasnya hidup demi keluarga, meski seringkali harus pulang dengan tangan hampa setelah seharian penuh mengayuh mesin jahit di bawah terik matahari.









Tinggalkan komentar