Pasar Nangka Bungur Mati Suri: Kios Kosong, Pedagang Pindah!

Author Image

Hadi Wibawa

14 September 2026, 14:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Pemandangan tak biasa menyelimuti Pasar Nangka Bungur di Kemayoran, Jakarta Pusat. Kios-kios di dalam bangunan pasar kini banyak yang terkunci rapat, menciptakan suasana lengang bak kota mati. Fenomena ini bukan tanpa alasan; mayoritas pedagang memilih beralih menggelar lapak mereka di sepanjang pinggir jalan depan pasar, sebuah langkah strategis demi mempertahankan roda ekonomi keluarga.

Pantauan Redaksibengkulu.co.id baru-baru ini di lokasi, tepatnya di Jalan Kalibaru Timur dekat persimpangan Jalan Kalibaru Timur V, menunjukkan kontras yang mencolok. Area pinggir jalan depan pasar justru dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas jual-beli. Deretan lapak dadakan berjejer rapi, menawarkan aneka komoditas mulai dari sayur-mayur segar, daging ayam dan sapi, bumbu dapur, buah-buahan, hingga kebutuhan pokok sehari-hari. Praktis, hampir semua jenis barang dagangan yang lazim ditemukan di pasar tradisional kini beralih ke tepi jalan.

Pasar Nangka Bungur Mati Suri: Kios Kosong, Pedagang Pindah!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Bahkan di tengah teriknya matahari siang, arus pembeli tak henti-hentinya berdatangan. Mereka silih berganti memarkirkan sepeda motornya sejenak di depan lapak, berbelanja kebutuhan, dan segera melanjutkan perjalanan. Efisiensi dan kemudahan akses menjadi daya tarik utama bagi para konsumen.

Pemandangan kontras 180 derajat tersaji saat melangkah masuk ke dalam kompleks Pasar Nangka Bungur. Pintu masuk utama pasar justru terhalang oleh tiga bangunan beton kecil tak bercat, yang sejatinya difungsikan sebagai pasar penampungan sementara bagi pedagang dari pasar lain yang tengah direnovasi. Ironisnya, dari puluhan lapak yang tersedia di area penampungan ini, hanya dua kios yang masih beroperasi, sementara sisanya memilih untuk tutup permanen.

Lorong-lorong di sekitar pasar penampungan ini terasa begitu sunyi, jauh dari keramaian di luar. Nyaris tak ada satu pun pembeli yang melintas, mengindikasikan preferensi konsumen yang jelas: mereka lebih memilih berbelanja di lapak-lapak tepi jalan ketimbang repot-repot masuk ke dalam bangunan pasar yang sebenarnya.

Situasi kian memprihatinkan saat menelusuri bangunan utama pasar. Lorong-lorong yang biasanya ramai kini hampa, dengan mayoritas kios yang berjejer di sepanjang jalan setapak berlantai keramik putih itu tertutup rapat oleh rolling door besi. Suasana lengang dan bahkan sedikit menyeramkan.

Dari total puluhan kios di bangunan pasar dua lantai ini, Redaksibengkulu.co.id mencatat kurang dari 20 lapak yang masih bertahan membuka usahanya. Di lantai dasar, hanya terlihat satu lapak sayuran, empat lapak sembako, satu lapak sepatu dan tumbler, satu lapak produk kecantikan, serta dua lapak perabotan rumah tangga. Sementara di lantai dua, dominasi toko emas (sekitar enam toko, beberapa menempati lebih dari satu kios) dan beberapa lapak pakaian serta

Related Post