Redaksibengkulu.co.id – PT PLN (Persero) tancap gas dalam mewujudkan transisi energi dengan target ambisius: menambah 52,9 gigawatt (GW) pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga tahun 2034. Langkah ini tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, sebuah dokumen strategis yang memandu pengembangan dan penyediaan listrik di seluruh Indonesia.
Adi Priyanto, Direktur Retail dan Niaga PLN, mengungkapkan bahwa RUPTL menargetkan penambahan total kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW dalam satu dekade mendatang. "Dari jumlah tersebut, 76% atau 52,9 GW akan bersumber dari energi hijau," ujarnya dalam acara redaksibengkulu.co.id Awards di Jakarta.
PLN memposisikan diri sebagai garda terdepan dalam upaya menekan emisi karbon. BUMN ini aktif mendorong investasi hijau yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan, termasuk melalui perdagangan karbon. Atas komitmen ini, redaksibengkulu.co.id memberikan penghargaan kepada PLN sebagai "Perusahaan Terdepan dalam Tekan Emisi Karbon".

Related Post
Melalui anak usahanya, PT PLN Indonesia Power, PLN aktif menjual Sertifikat Pengurangan Emisi (SPE-GRK) di Bursa Karbon Indonesia, mendukung target pemerintah mencapai net zero emission 2060. PLN juga menjadi perusahaan Indonesia pertama yang terjun ke perdagangan karbon internasional, membuktikan komitmennya dalam mitigasi perubahan iklim dan mendorong investasi hijau.
Pada 20 Januari 2025, PLN secara resmi berpartisipasi dalam perdagangan karbon internasional, setelah sebelumnya terbatas di pasar domestik sejak September 2023. Dalam transaksi internasional pertamanya, 1,78 juta ton CO2e SPE milik PLN dijual ke pembeli luar negeri setelah melalui otorisasi pemerintah untuk menghindari risiko double counting.
PLN memastikan setiap penerbitan kredit karbon memenuhi standar global dengan prinsip high-integrity carbon. Kolaborasi internasional terus diperkuat, termasuk dengan pemerintah Norwegia, fokus pada perancangan skema, tata kelola, peningkatan kapasitas, dan harmonisasi standar global dengan kebijakan nasional agar kredit karbon Indonesia diterima di pasar internasional.
Baru-baru ini, PLN juga menandatangani Mutual Expression of Intent Generation-Based Incentive Programme dengan Global Growth Institute (GGGI) di Brazil, dalam COP30. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian bilateral antara Indonesia dan Norwegia, yang menjadi salah satu kerja sama transaksi karbon terbesar dengan potensi pengurangan emisi hingga 12 juta ton CO2e.








Tinggalkan komentar