Redaksibengkulu.co.id – Wakil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Wamendikbudristek), Stella Christie, baru-baru ini mengungkap potensi luar biasa perguruan tinggi dalam mendongkrak perekonomian negara. Berdasarkan data dari sejumlah negara maju, kontribusi kampus terhadap PDB bisa mencapai angka fantastis, bahkan hingga kuadriliun rupiah!
Dalam acara Pesta Rakyat Untuk Indonesia 2025 di Jakarta Selatan, Wamendikbudristek memaparkan contoh nyata dari Amerika Serikat. Universitas Stanford, misalnya, menghasilkan kontribusi sebesar US$ 2,7 triliun (sekitar Rp 44 kuadriliun) per tahun bagi perekonomian Negeri Paman Sam. Angka ini didapat dari lulusan, dosen, dan hasil risetnya. Lebih dari itu, Stanford juga berkontribusi pada penciptaan 5,4 juta lapangan kerja dan 40.000 perusahaan baru. "Data ini sebenarnya sudah agak lama, dari tahun 2012," imbuh Stella, menunjukkan potensi yang sebenarnya jauh lebih besar.
Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga tak kalah mengesankan. Lembaga pendidikan ternama ini menyumbang US$ 2 triliun (sekitar Rp 32 kuadriliun) per tahun melalui riset dan alumni-alumninya, serta menciptakan 4,6 juta lapangan kerja dan 30.000 perusahaan. Bahkan, University of Kansas pun memberikan kontribusi signifikan sebesar US$ 7,8 miliar (sekitar Rp 127 triliun) per tahun bagi ekonomi AS, bersama 88.000 lapangan pekerjaan yang tercipta.

Related Post
Stella menekankan betapa besarnya potensi ekonomi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi di AS. Jika digabungkan, kontribusi seluruh perguruan tinggi di negara tersebut akan memberikan dampak luar biasa bagi perekonomian nasional. Ia juga mencontohkan China, di mana klaster inovasi dan teknologi menyumbang 13,4% dari total PDB, hanya dengan memanfaatkan 2,5% lahan konstruksi.
Di Indonesia sendiri, Wamendikbudristek belum merilis data kontribusi secara rinci. Namun, berdasarkan kunjungannya ke 34 universitas di 17 provinsi selama 10 bulan menjabat, ia melihat potensi besar yang perlu dikembangkan melalui riset yang lebih masif. "Kita di Indonesia kaya, bukan hanya sumber daya alamnya, tetapi juga sumber daya manusianya yang mampu berpikir dan mengolahnya. Kita harus bangun ekosistem riset yang tepat," tutup Stella.









Tinggalkan komentar