Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul dan siap kerja. Langkah proaktif ini diambil pemerintah untuk memperkuat kesiapan angkatan kerja Indonesia dalam menghadapi persaingan di pasar kerja, baik di tingkat nasional maupun global.
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa Indonesia saat ini berada dalam momentum krusial bonus demografi, dengan lebih dari 218 juta penduduk usia produktif. Peluang ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat industrialisasi dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. "Tingkat pengangguran yang masih sekitar lima persen mendorong pemerintah untuk mengambil langkah proaktif dalam memperkuat kesiapan angkatan kerja memasuki pasar kerja nasional maupun global," ujar Agus, Minggu (30/11/2025).
Selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, Agus menegaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan. Pendidikan vokasi harus menjadi prioritas nasional agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, baik di dalam negeri maupun di pasar global. Hal ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah yang menempatkan pembangunan manusia unggul, percepatan industrialisasi berbasis nilai tambah, penguatan hilirisasi berkelanjutan, serta transformasi digital dan inovasi teknologi sebagai agenda strategis.

Related Post
"Semua agenda besar tersebut hanya dapat dicapai apabila Indonesia memiliki SDM industri yang kompeten, adaptif, produktif, dan siap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional," tambahnya.
Kemenperin telah menyusun Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai kerangka pembangunan industri nasional ke depan. Strategi ini meliputi peningkatan nilai tambah melalui industrialisasi, pembangunan industri yang lebih hijau dan berkelanjutan, percepatan penerapan teknologi digital dalam proses manufaktur, serta pembangunan industri yang inklusif.
Untuk memastikan kebutuhan SDM industri terpenuhi, Kemenperin telah membangun ekosistem vokasi yang terintegrasi melalui jaringan 13 Politeknik dan Akademi Komunitas, 9 Sekolah Menengah Kejuruan, serta 7 Balai Diklat Industri. Lembaga-lembaga ini memiliki spesialisasi pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan sektor industri secara langsung. Kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri juga terus diperkuat melalui kurikulum link and match, teaching factory, magang industri, serta peningkatan kapasitas tenaga pendidik.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi melaporkan bahwa dari total 2.993 lulusan tahun ini, 49,28 persen telah terserap bekerja, melanjutkan studi, atau menjalankan usaha mandiri. Selain itu, 151 lulusan Program Setara Diploma 1 yang merupakan hasil kerja sama dengan industri, seluruhnya telah terserap bekerja.
BPSDMI juga terus mendorong transformasi kelembagaan dengan memperluas status Badan Layanan Umum (BLU) bagi Politeknik di bawah Kemenperin, serta meningkatkan akreditasi nasional dan internasional.
Pada kesempatan yang sama, Agus mengukuhkan dua Guru Besar baru, yaitu Prof. Dr. Candra Irawan, M.Si. dari Politeknik AKA Bogor dan Prof. Dr. Siti Aisyah, S.T., M.T. dari Politeknik STMI Jakarta. Keduanya memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan riset di bidang kimia bahan alam, teknik industri otomotif, serta inovasi proses industri.









Tinggalkan komentar