Sumatera Lumpuh! Kementerian PU Kerja Keras Buka Akses

Sumatera Lumpuh! Kementerian PU Kerja Keras Buka Akses

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah berpacu dengan waktu untuk membuka kembali akses jalan yang terputus akibat banjir dan longsor dahsyat yang melanda tiga provinsi di Sumatera. Bencana yang disebut sebagai salah satu yang terparah di tahun 2025 ini, memicu respons cepat dari pemerintah pusat.

Lebih dari sembilan kabupaten/kota di Sumatera, mulai dari Aceh hingga Sumatera Barat, terdampak banjir. Prioritas utama saat ini adalah memulihkan akses jalan untuk mempercepat penyaluran bantuan dan mobilitas tim penanganan bencana.

Sumatera Lumpuh! Kementerian PU Kerja Keras Buka Akses
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, menjelaskan bahwa banjir dan longsor telah merusak infrastruktur jalan dan jembatan. Laporan yang diterima menunjukkan bahwa akses jalan di beberapa wilayah terputus, menghambat upaya penanggulangan.

COLLABMEDIANET

"Kami terus memperbarui data jembatan putus. Awalnya ada empat di Aceh, lalu menjadi tujuh. Selain itu, teridentifikasi setidaknya 30 titik longsor, dan jumlah ini masih bisa bertambah," ujar Diana di Kementerian PU, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Salah satu yang terparah adalah Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang menghubungkan Tarutung (Tapanuli Utara) dengan Sipirok (Tapanuli Selatan). Penanganan terkendala karena banjir merendam jalan, menyulitkan alat berat mencapai lokasi.

"Saya sudah menghubungi kepala balai jalan untuk segera mengerahkan alat berat. Kemarin sulit karena trailer saja tidak bisa lewat banjir. Sekarang harus menunggu air surut," jelasnya.

Akses menuju Kota Sibolga juga terisolasi. Namun, Diana mengabarkan bahwa sebagian akses jalan dari Tarutung menuju Sibolga sudah berhasil dibuka. "Dari 60 km, sekitar 30 km sudah bisa ditembus. Sisanya masih menunggu," imbuhnya.

Kementerian PU telah memobilisasi alat berat ke lokasi bencana yang banjirnya mulai surut. Sebanyak 20 unit alat berat dikirim ke Aceh, 21 ke Sumatera Utara, dan 15 ke Sumatera Barat.

Diana mengakui bahwa skala banjir kali ini sangat besar. Bahkan, Padang Pariaman baru mengalami banjir lagi setelah 40 tahun. Ia juga menyebutkan diskusi dengan Pakar Geologi UGM, Dwikorita Karnawati, yang menduga penyebab utama banjir adalah faktor alam, yaitu intensitas hujan tinggi dan masalah tata ruang.

"Hujan terus menerus selama empat hari adalah faktor alam. Namun, masalah tata ruang, alih fungsi lahan menjadi permukiman, juga menjadi penyebab banjir," kutip Diana dari Dwikorita.

Meski demikian, Diana optimis banjir akan segera surut, seiring dengan proyeksi BMKG bahwa Siklon Tropis Senyar telah usai. "Ramalan BMKG, Siklon Tropis Senyar sudah habis hari ini. Angin dan hujan seharusnya sudah selesai. Kita tetap harus antisipasi dan terus berupaya membuka jalan," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar