Redaksibengkulu.co.id – PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI tengah menggenjot produksi pesawat komersial N219, sebuah inovasi berkapasitas 19 penumpang yang dirancang khusus untuk menjangkau daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Langkah strategis ini diharapkan mampu membuka akses dan konektivitas bagi wilayah-wilayah terpencil di Indonesia yang selama ini sulit dijangkau.
Heber M. F. Panjaitan, VP Business Development & Marketing PTDI, menjelaskan bahwa N219 bukan sekadar pesawat biasa. Ia dirancang untuk melayani rute-rute perintis, menghubungkan daerah yang sulit diakses melalui jalur darat maupun laut. Lebih lanjut, pesawat ini memiliki peruntukan "dual use", artinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sipil/komersial maupun militer, menunjukkan fleksibilitas dan adaptabilitasnya dalam berbagai skenario.

Potensi pasar untuk N219 sangat menjanjikan. "Untuk komersial, potensi lebih dari 150 unit untuk memenuhi rute-rute perintis, itulah tadi buat yang N219. Jadi cukup besar yang layak bangsa pasarnya. Dan ada 30 unit penugasan Kemhan yang tadi saya bilang, 30 unit dari penugasan Presiden, untuk memenuhi kebutuhan di kementerian lembaga. Jadi memang cukup besar bangsa pasarnya, 150 plus 30 itu, 180 unit," ungkap Heber kepada Redaksibengkulu.co.id dalam gelaran TNI Fair di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).
Also Read
Untuk merealisasikan target ambisius ini, PTDI secara bertahap meningkatkan kapasitas produksi N219. Pada tahun 2026, Heber membeberkan bahwa sudah ada kontrak untuk 13 unit N219. Rinciannya meliputi 4 unit untuk keperluan komersial dari Mitra Aviasi Perkasa, 6 unit dipesan oleh TNI AD, dan 3 unit lainnya dari PT BIBU Agro Maritim, anak usaha PT BIBU Panji Sakti. Selain itu, terdapat 3 unit N219 yang telah memasuki tahap Perjanjian Pengadaan Barang dan Jasa (PPBJ) dari Kementerian Pertahanan, menandakan komitmen pemerintah dalam pengadaan pesawat karya anak bangsa ini.
Mengenai harga, PTDI mematok N219 di kisaran US$9 juta hingga US$10 juta per unit untuk konfigurasi dasar. Harga ini dapat bervariasi jika ada permintaan modifikasi khusus dari pembeli, sesuai dengan kebutuhan operasional masing-masing.
Secara keseluruhan, kapasitas produksi PTDI pada tahun 2026 ditargetkan mencapai 28 unit. Angka ini mencakup 6 unit NC212, 4 unit CN235, 2 unit N219, dan 16 unit helikopter. PTDI juga berencana meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, dengan target CN235 naik menjadi 6-8 unit per tahun, lalu 10-12 unit per tahun, serta N219 dari 6 menjadi 12 unit per tahun. Pasar ekspor yang dibidik meliputi wilayah Asia Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin, menunjukkan ambisi PTDI untuk bersaing di kancah global.
Pesawat N219 dan berbagai produk unggulan PTDI lainnya turut dipamerkan dalam ajang TNI Fair yang berlangsung di Monumen Nasional (Monas) pada 19-20 September 2026. Pameran ini menjadi platform strategis bagi PTDI untuk menunjukkan kapabilitas industri kedirgantaraan nasional, baik produk yang sudah dikontrak maupun yang berpotensi memenuhi kebutuhan TNI.
Selain pesawat CN235, NC212/NC212i, N219, dan helikopter, PTDI juga menampilkan teknologi pendukung pertahanan, pengembangan drone, serta kerja sama dengan mitra asing. Anak usaha PTDI, PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP), turut memperkuat kapabilitas pemeliharaan dan perawatan mesin pesawat. Keikutsertaan PTDI dalam pameran ini menegaskan komitmen perusahaan dalam memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas produksi demi kemandirian industri pertahanan dan konektivitas nasional yang lebih baik.




