Harga BBM Melejit, Honduras Membara!

Author Image

Hadi Wibawa

4 Oktober 2026, 02:46 WIB

REDAKSIBENGKULU.CO.ID – Gelombang kemarahan masyarakat melanda negara Honduras di Amerika Tengah menyusul kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi secara berturut-turut. Aksi protes besar-besaran pecah di berbagai kota, di mana massa mulai memblokade jalan raya utama dan melakukan pembakaran ban sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan pemerintah.

Berdasarkan laporan dari media lokal El Heraldo yang dihimpun oleh redaksibengkulu.co.id, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan yang meningkat. Para demonstran menuntut pemerintah untuk segera menghentikan tren kenaikan harga BBM yang telah berlangsung selama 11 minggu terakhir atau hampir tiga bulan tanpa henti.

Harga BBM Melejit, Honduras Membara!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Di ibu kota Tegucigalpa, lonjakan harga terasa sangat mencekik. Harga bensin premium dilaporkan mencapai angka Rp 26.977 per liter, sementara bensin biasa menyentuh kisaran Rp 23.881 per liter. Angka ini dianggap sangat memberatkan daya beli masyarakat dan biaya operasional transportasi.

Meski pemerintah Honduras telah berupaya melakukan intervensi dengan menaikkan subsidi bahan bakar dari 65% menjadi 70%, langkah tersebut dinilai tidak berdaya membendung laju kenaikan harga di tingkat konsumen. Sekretariat Energi Honduras mengakui bahwa fluktuasi harga energi global menjadi faktor utama yang sulit dikendalikan.

Aksi massa terpantau meluas di sejumlah titik strategis, mulai dari Tegucigalpa hingga San Pedro Sula, Villanueva, serta jalur penghubung ke wilayah selatan dan timur negara tersebut. Warga mengeluhkan dampak domino dari kenaikan BBM yang langsung memukul sektor transportasi dan pengeluaran rumah tangga.

Menanggapi situasi ini, Institut Transportasi Darat Honduras menyatakan bahwa meski tidak ada instruksi resmi untuk pemogokan nasional, aksi blokade jalan oleh para pekerja transportasi tetap terjadi secara spontan. Pihak sektor transportasi menyatakan mereka masih membuka ruang dialog dengan pemerintah guna mencari solusi atas membengkaknya biaya operasional akibat krisis energi ini.

Related Post