JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa pasar energi global tengah mengalami guncangan hebat setelah harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menyentuh angka US$ 115 per barel. Lonjakan ini menandai titik tertinggi dalam lima bulan terakhir, yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data pasar terbaru, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak terdekat mengalami kenaikan sebesar 1,8% menjadi US$ 115,18 per barel. Kondisi serupa juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat yang meroket 2% ke level US$ 101,56 per barel.

Ketidakpastian pasar ini berakar dari spekulasi para investor mengenai potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dalam waktu dekat. Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden AS, Donald Trump, memberikan pernyataan ambigu bahwa pihaknya tidak sedang melakukan negosiasi dengan Iran dan mengisyaratkan akan ada peristiwa besar yang terjadi "dalam waktu dekat".
Also Read
Di sisi lain, Iran menunjukkan kesiapannya dalam menghadapi konflik tersebut. Melalui kantor berita pemerintah Tasnim, Kepala Staf Angkatan Darat Iran menegaskan bahwa militer mereka telah dalam posisi siaga penuh untuk menghadapi perang asimetris setelah melakukan penguatan kapasitas tempur secara masif.
Kondisi keamanan di wilayah Teluk juga semakin memburuk akibat serangan kelompok militan Houthi yang beraliansi dengan Iran. Serangan drone terhadap fasilitas vital di Arab Saudi, termasuk ladang minyak Shaybah dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam, telah memakan korban jiwa dan luka-luka.
Dampak dari eskalasi ini memaksa Departemen Luar Negeri AS untuk memerintahkan personel non-esensial segera meninggalkan Arab Saudi. Bahkan, raksasa energi Saudi Aramco telah menginstruksikan seluruh karyawannya untuk bekerja secara jarak jauh guna menghindari risiko serangan langsung di pusat operasional mereka di Dhahran.
Situasi ini menempatkan harga minyak Brent pada jalur penguatan mingguan sekitar 5%, yang sekaligus menandai tren kenaikan selama tiga pekan berturut-turut, mencerminkan kekhawatiran dunia akan terganggunya pasokan energi global.




