Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan proposal perdamaian terbaru dari Iran "belum cukup baik." Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam menjelang tenggat waktu krusial yang ia tetapkan bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, atau menghadapi konsekuensi militer yang dahsyat terhadap infrastruktur vitalnya.
Sebelumnya, Iran telah mengajukan respons resmi setebal 10 poin kepada Washington melalui mediasi Pakistan. Proposal tersebut dilaporkan mencakup poin-poin penting seperti protokol jalur aman di Selat Hormuz, rencana rekonstruksi pasca-konflik, serta tuntutan pencabutan sanksi ekonomi yang diberlakukan AS.
Menanggapi proposal tersebut, Trump, dalam pernyataannya yang dikutip oleh Redaksibengkulu.co.id pada Selasa (7/6/2026), mengakui bahwa itu adalah "langkah yang sangat signifikan," namun menegaskan, "Itu belum cukup baik." Menariknya, meskipun respons Iran ini diinterpretasikan sebagai proposal gencatan senjata, Teheran sendiri secara tegas menolak ide gencatan senjata sementara. Sebaliknya, mereka menyerukan solusi permanen untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan.

Related Post
Dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Putih, Presiden Trump kembali melontarkan ancaman keras. Ia menyatakan akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi dan transportasi Iran pada Selasa pukul 8 malam waktu setempat, jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
"Kami punya rencana, dengan kekuatan militer kami, di mana setiap jembatan di Iran akan dihancurkan sebelum tengah malam besok," tegas Trump. Ia menambahkan, "Setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi." Ancaman ini menunjukkan keseriusan Washington dalam menekan Teheran.
Sejak dimulainya konflik pada 28 Februari lalu, Iran memang secara efektif telah memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia. Pekan lalu, parlemen Iran bahkan mengesahkan undang-undang yang melegitimasi penarikan biaya bagi kapal yang melintas, meskipun rute tersebut praktis masih tertutup bagi sebagian besar lalu lintas maritim internasional.
Dalam nada tegas, Trump menegaskan bahwa dialah satu-satunya pihak yang akan menetapkan syarat gencatan senjata. Ini dipandang sebagai upaya terakhir sebelum tenggat waktu yang ia berikan kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz berakhir, sebuah keputusan yang bisa mengubah peta geopolitik kawasan secara drastis.









Tinggalkan komentar