Harga Minyak Melejit, BBM RI di Ujung Tanduk!
Redaksibengkulu.co.id – Indonesia kini dihadapkan pada bayang-bayang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tak terhindarkan. Lonjakan harga minyak mentah global, dipicu oleh konflik geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, menjadi pemicu utama. Meskipun pemerintah sempat menahan kenaikan harga BBM sejak April lalu, langkah ini dinilai tidak akan bertahan lama mengingat tekanan ekonomi yang kian memberat.

Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, mengungkapkan bahwa kemampuan pemerintah dan badan usaha penyalur BBM untuk menanggung beban subsidi akan mencapai batasnya jika harga minyak terus merangkak naik hingga akhir tahun. "Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik," jelas Piter dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksibengkulu.co.id. Ia menambahkan, masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi adalah respons kebijakan yang wajar dalam kondisi tertentu, asalkan diiringi dengan kompensasi yang tepat sasaran.
Also Read
Lebih lanjut, Piter mengingatkan akan potensi kombinasi kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar Rupiah, dan tekanan fiskal yang dapat mengancam stabilitas sistem keuangan nasional. Dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat, koordinasi kebijakan antarotoritas ekonomi menjadi sangat krusial. "Dalam kondisi seperti ini, koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial," tegasnya. Dunia usaha dan pelaku pasar, menurut Piter, sangat menantikan sinyal kebijakan dari otoritas seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Kementerian Keuangan terkait arah stabilitas sistem keuangan ke depan.
Kondisi harga minyak global saat ini telah jauh melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan di kisaran US$ 70 per barel. Faktanya, harga pasar kini bertengger di atas US$ 100 per barel. Menanggapi situasi ini, Halim Alamsyah, Board of Experts Prasasti sekaligus mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, memproyeksikan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir," papar Halim.
Halim juga memperingatkan tentang potensi pelebaran defisit fiskal. Dengan skenario harga minyak di sekitar US$ 100 per barel dan nilai tukar Rupiah mencapai Rp 17.000 per dolar AS, defisit fiskal Indonesia diperkirakan akan melampaui batas aman 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). "Kami memperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar ke kisaran 3,3-3,5% dari PDB, melampaui batas defisit 3% yang selama ini dijaga pemerintah," pungkasnya, menyoroti urgensi kebijakan yang hati-hati di tengah gejolak global.




