Redaksibengkulu.co.id – Kebijakan tarif tinggi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap sejumlah negara Afrika berpotensi besar menguntungkan China. Empat negara Afrika, yakni Libya, Afrika Selatan, Aljazair, dan Tunisia, terkena dampak terberat dengan tarif impor mencapai 25% hingga 30%. Eighteen negara Afrika lainnya juga terkena tarif resiprokal 15%, seperti yang diumumkan Gedung Putih pada akhir Juli lalu. Langkah Trump yang diklaim sebagai balasan atas defisit perdagangan ini, justru membuka peluang bagi China.
Langkah AS yang dinilai sebagai ‘timbal balik’ ini, justru dilihat sebagai peluang emas oleh China. Negeri Tirai Bambu tersebut menawarkan pembebasan biaya impor bagi hampir semua mitra dagangnya di Afrika. Seorang peneliti Afrika Selatan, Neo Letswalo, kepada CNN mengungkapkan bahwa ini adalah kesempatan bagi negara-negara Afrika untuk memperkuat perdagangan antarnegara berkembang. Letswalo menambahkan bahwa AS secara bertahap kehilangan kepemimpinan globalnya, dan China siap mengambil alih peran tersebut.
Kegagalan AS untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan negara-negara Afrika sebelum batas waktu tarif diberlakukan, semakin memperkuat posisi China. Letswalo menggambarkan situasi ini sebagai peluang terbuka bagi Tiongkok. Ia juga memperingatkan bahwa tarif tersebut akan memperburuk masalah pengangguran yang sudah ada di Afrika Selatan, terutama jika perusahaan-perusahaan AS memutuskan untuk menarik diri.

Related Post
Meskipun demikian, Letswalo mengingatkan adanya risiko bagi Afrika jika terlalu bergantung pada China. Ia khawatir produk-produk China yang lebih murah akan membanjiri pasar Afrika dan mengalahkan industri lokal yang masih berkembang. Oleh karena itu, perlu strategi yang tepat agar Afrika tidak hanya bergantung pada satu kekuatan ekonomi global. Kebijakan ini memerlukan pertimbangan yang matang agar tidak menimbulkan dampak negatif jangka panjang bagi perekonomian negara-negara di Benua Afrika.









Tinggalkan komentar