Redaksibengkulu.co.id – Di tengah gejolak pasar saham domestik yang kembali bergejolak, kabar positif datang dari dua raksasa pertambangan, Amman Mineral Internasional (AMMN) dan Bayan Resources (BYAN). AMMN berhasil mencatatkan kinerja finansial yang melesat dengan laba bersih fantastis, sementara BYAN mendapatkan persetujuan krusial untuk tambahan kuota produksi batu bara yang sangat dinantikan.
Amman Mineral Internasional (AMMN) secara dramatis membalikkan keadaan, mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$497,93 juta pada semester I-2026. Angka ini kontras tajam dengan kerugian US$148,72 juta yang diderita pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan kinerja ini didorong oleh peningkatan penjualan bersih hingga 1.024,02% secara tahunan, mencapai US$2,05 miliar, dari sebelumnya US$182,59 juta pada semester I 2025. Peningkatan volume produksi, perbaikan kadar bijih Fase 8, serta kenaikan harga komoditas global menjadi motor utama pertumbuhan ini.

Menyusul diperolehnya Project Acceptance Certificate (PAC) untuk smelter pada 24 Juli 2026, AMMN juga merevisi target produksi emas dalam konsentrat untuk tahun 2026 sebesar 34% menjadi 775 koz, dari target sebelumnya 579 koz. Perseroan juga menetapkan target baru untuk produksi katoda tembaga sebesar 130 kt dan emas murni sebesar 350 koz. Dari sisi sumber daya, data Joint Ore Reserves Committee (JORC) per 30 Juni 2026 menunjukkan peningkatan signifikan cadangan bijih di Batu Hijau menjadi 777 juta ton (dari 705 juta ton) dan Elang menjadi 2,58 miliar ton (dari 2,52 miliar ton). Proyek Elang ditargetkan memasuki Final Investment Decision (FID) pada 2027, dengan produksi bijih pertama diperkirakan sekitar tahun 2031 atau 2032, memanfaatkan sebagian besar infrastruktur yang sudah ada.
Also Read
Sementara itu, Bayan Resources (BYAN) mendapatkan angin segar setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tiga anak usahanya. Persetujuan ini berbuah tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15 juta hingga 20 juta ton. Keputusan ini sangat vital mengingat sebelumnya BYAN sempat menghadapi keterbatasan produksi dan bahkan mengeluarkan pemberitahuan force majeure akibat belum terbitnya RKAB. Tambahan kuota ini diharapkan mampu mendongkrak proyeksi volume produksi BYAN untuk tahun 2026, yang sebelumnya diperkirakan Moody’s hanya sekitar 39 juta ton tanpa persetujuan ini, jauh di bawah produksi 68 juta ton pada tahun 2025. Di sisi lain, rencana akuisisi 10 miliar saham BYAN (sekitar 30% kepemilikan) oleh PT Jhonlin Baratama masih menunggu restu Kementerian ESDM, sesuai dengan regulasi UU No. 3/2020 dan PP No. 96/2021 yang mengatur pengalihan kepemilikan saham pemegang IUP/IUPK.
Kabar baik dari kedua emiten tersebut




