Redaksibengkulu.co.id – Temuan mengejutkan datang dari Ombudsman RI. Beras impor sisa tahun lalu yang menumpuk di gudang Bulog ternyata sudah berusia lebih dari setahun dan menimbulkan aroma tidak sedap. Anggota Ombudsman, Yeka Hendra Fatika, mengungkapkan fakta ini dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (8/8/2025). "Sebagian beras impor di Bulog sudah berumur lebih dari setahun, bahkan ada yang sejak Februari 2024. Akibatnya, beras tersebut menjadi bau apek," ujarnya.
Yeka menjelaskan, meskipun berbau apek, beras tersebut masih bisa dikonsumsi setelah melalui proses pengolahan ulang. Namun, regulasi yang melarang penggunaan beras apek sebagai bahan baku perdagangan menjadi kendala utama penyalurannya ke pasar. Kondisi ini menyebabkan stok beras di pasaran semakin menipis. Ia pun mendesak Badan Pangan Nasional untuk memberikan kebijakan fleksibel kepada Bulog agar segera melepas stok beras tersebut demi menstabilkan harga.
Lebih lanjut, Ombudsman menemukan kelangkaan beras juga terjadi di tingkat penggilingan dan ritel modern. Hasil inspeksi mendadak (sidak) di Karawang, Jawa Barat, menunjukkan 10 dari 23 penggilingan padi telah tutup. Stok beras di penggilingan yang tersisa pun sangat menipis, hanya berkisar 5-10% dari kapasitas normal. Hal ini disebabkan oleh penurunan produksi padi dan kekhawatiran para penggiling terkait pengawasan mutu dan kualitas beras. Bahkan, penggilingan besar yang biasanya memiliki stok puluhan ribu ton, kini hanya memiliki stok beberapa ratus ton saja.

Related Post
Situasi serupa juga terjadi di ritel modern. Yeka menuturkan, rak-rak khusus beras di beberapa supermarket kini kosong dan telah digantikan oleh produk lain. Kondisi ini semakin memperparah kekhawatiran akan ketersediaan beras di pasaran. Ombudsman berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini dan memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat.









Tinggalkan komentar