Redaksibengkulu.co.id, nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dengan mata uang Paman Sam yang kini melampaui level psikologis Rp 18.000. Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) dengan tegas menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah demi menopang inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pelemahan rupiah ini terlihat jelas dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data dari Bloomberg, dolar AS tercatat menguat hingga mencapai Rp 18.083, naik 74 poin atau sekitar 0,41%. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar dan menuntut respons cepat dari otoritas moneter.

Erwin Gunawan Hutapea, Direktur Eksekutif Senior dan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menjelaskan bahwa pihaknya terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter. "Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam," ujar Erwin dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksibengkulu.co.id baru-baru ini.
Also Read
Berbagai instrumen yang dimaksud mencakup strategi triple intervention di pasar valas, meliputi pasar Spot, NDF (Non-Deliverable Forward), dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward). Selain itu, optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging juga terus digencarkan. Langkah-langkah ini bertujuan ganda: menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menarik masuknya aliran modal asing.
Tidak hanya itu, Erwin juga menekankan penguatan strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan. Ia menyebutkan bahwa posisi SRBI kini berada dalam tren yang lebih terkendali. "Ke depan, penerbitan SRBI akan terus diselaraskan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan diarahkan untuk mendukung masuknya aliran modal asing, guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," tambahnya.
Di luar fokus stabilitas nilai tukar, BI juga terus mengoptimalkan instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan diperkuat untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas. Ini termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi lebih efektif. Lebih lanjut, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi.
Dengan berbagai langkah komprehensif ini, BI menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi gejolak pasar dan memastikan fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah tantangan global.




