Redaksibengkulu.co.id melaporkan, sebuah langkah drastis dan menggemparkan telah diambil oleh pemerintah Iran. Mulai saat ini, setiap kapal yang melintasi jalur strategis Selat Hormuz akan dikenakan pungutan senilai US$1 per barel minyak muatan yang diangkut. Yang lebih mengejutkan, pembayaran "tol" ini wajib dilakukan menggunakan aset kripto Bitcoin, sebuah strategi cerdik Teheran untuk menghindari jerat sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat (AS).
Hamid Hosseini, juru bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan upaya Teheran untuk mendayagunakan platform finansial alternatif. Mekanisme operasionalnya cukup unik: kapal-kapal yang berkeinginan melintasi Selat Hormuz harus terlebih dahulu mengirimkan detail muatan mereka melalui email kepada otoritas Iran. Setelah penilaian selesai, tarif yang sesuai akan ditetapkan, dan pembayaran harus segera dilakukan menggunakan Bitcoin sebelum kapal diizinkan melanjutkan perjalanan.

"Begitu email tiba dan Iran menyelesaikan penilaiannya, kapal-kapal diberi waktu beberapa detik untuk membayar dengan bitcoin, untuk memastikan mereka tidak dapat dilacak atau disita karena sanksi," ungkap Hosseini kepada Financial Times, seperti dikutip Redaksibengkulu.co.id pada Jumat (10/4/2026).
Hosseini menambahkan bahwa prosedur verifikasi ini juga diterapkan untuk memastikan bahwa kapal-kapal yang melintas tidak membawa senjata. Meskipun demikian, semua jenis produk lain, termasuk minyak, diperbolehkan melintas. "Semua barang bisa lewat, tetapi prosedurnya akan memakan waktu untuk setiap kapal, dan Iran tidak terburu-buru," tegasnya, mengindikasikan bahwa proses ini bisa memakan waktu dan Iran tidak akan tergesa-gesa dalam memberikan izin.
Langkah kontroversial ini tak lepas dari eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang pecah sejak akhir Februari lalu. Konflik tersebut secara efektif telah menyebabkan Teheran menutup Selat Hormuz, urat nadi pelayaran minyak utama dunia. Penutupan ini, mengingat sekitar 20% pasokan minyak global mengalir melalui selat tersebut, telah memicu gejolak dan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global.
Sebelumnya, selama periode konflik, Iran memang mengizinkan sejumlah kecil kapal untuk melewati selat tersebut melalui sistem pos tol. Namun, jumlah kapal yang diizinkan tersebut jauh dari memadai untuk meredakan kekhawatiran pasokan dan harga yang disebabkan oleh penutupan efektif jalur vital ini. Kebijakan "tol Bitcoin" ini kini menjadi babak baru dalam upaya Iran untuk menegaskan kendali atas salah satu jalur maritim terpenting di dunia, sekaligus menantang dominasi finansial global.