IHSG Anjlok Lebih dari 4%! Bos Bursa Buka-bukaan!

Author Image

Hadi Wibawa

5 Maret 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami hari yang kelam pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026, dengan terjun bebas ke zona merah. Penutupan perdagangan menunjukkan IHSG parkir di level 7.577,06, anjlok signifikan sebesar 4,57%. Pelemahan drastis ini memicu kekhawatiran di pasar modal, dan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, langsung angkat bicara mengenai penyebabnya.

Berdasarkan data dari RTI Business, pergerakan IHSG memang menunjukkan tren negatif sepanjang hari. Setelah dibuka di level 7.896,37, indeks sempat menyentuh titik terendah pada 7.486,32 sebelum sedikit rebound menjelang penutupan. Namun, upaya tersebut tak mampu menahan laju pelemahan yang masif.

IHSG Anjlok Lebih dari 4%! Bos Bursa Buka-bukaan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Irvan Susandy menjelaskan bahwa tekanan jual yang masif ini tidak lepas dari meningkatnya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. "Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat," ujar Irvan dalam keterangan tertulisnya kepada Redaksibengkulu.co.id.

Lebih lanjut, Irvan menambahkan bahwa kondisi ini bukanlah fenomena tunggal yang hanya menimpa pasar Indonesia. Pelemahan IHSG, menurutnya, sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga mengalami koreksi tajam. "Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, ASX. Korea Selatan bahkan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8%," imbuhnya, menunjukkan betapa parahnya dampak sentimen global.

Data perdagangan pada Rabu (4/3/2026) mencatat volume transaksi mencapai 53,61 miliar saham dengan nilai sebesar Rp 29,72 triliun. Frekuensi perdagangan juga sangat tinggi, mencapai 3.302.236 kali. Sayangnya, mayoritas saham harus rela ditutup di zona merah, dengan 734 saham melemah, sementara hanya 54 saham yang menguat, dan 33 saham stagnan.

Kepanikan investor juga terlihat dari aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp 117,91 miliar pada hari itu. Angka ini menambah panjang daftar net sell asing sepanjang tahun 2026 yang kini menembus Rp 6,69 triliun, mengindikasikan sentimen negatif yang berkelanjutan dari pasar global terhadap prospek ekonomi dan investasi di Indonesia.

Related Post