Redaksibengkulu.co.id – Konglomerat Amerika Serikat (AS) membanjiri pasar sepak bola Eropa dengan suntikan modal fantastis. Pendapatan klub-klub di lima liga top Eropa mencapai US$ 23,7 miliar (sekitar Rp 383,9 triliun) pada musim 2023/2024, menarik minat para investor kaya raya Negeri Paman Sam. Fenomena ini, seperti yang dilaporkan CNBC, menunjukkan potensi bisnis yang luar biasa menggiurkan.
Empat dari enam klub papan atas Liga Primer Inggris—Chelsea, Liverpool, Manchester United, dan Arsenal—sudah merasakan manisnya suntikan modal dari pengusaha AS. Nilai klub-klub top Eropa pun meroket. Ambil contoh keluarga Glazer, pemilik Manchester United. Mereka membeli klub tersebut seharga US$ 1,07 miliar (sekitar Rp 17,3 triliun) pada 2005. Hanya dalam 19 tahun, penjualan saham minoritas kepada Jim Ratcliffe menghasilkan keuntungan enam kali lipat!
Kieran Maguire, akademisi Universitas Liverpool yang pakar keuangan sepak bola, menjelaskan fenomena ini. Para miliarder AS, kata Maguire, kehabisan ide untuk menginvestasikan kekayaan mereka yang melimpah. "Apa lagi yang bisa Anda lakukan dengan uang Anda? Anda bisa memiliki banyak helikopter dan kapal pesiar, tetapi…" ujarnya, menyiratkan terbatasnya pilihan investasi lain yang sebanding dengan potensi keuntungan di sepak bola Eropa. Terbatasnya tim olahraga profesional kelas atas di AS yang tersedia untuk diakuisisi juga menjadi faktor pendorong.

Related Post
Riset PitchBook menunjukkan lebih dari 36 klub di lima liga top Eropa kini memiliki kepemilikan asing melalui ekuitas swasta, modal ventura, atau utang swasta. Sebagian besar berada di Liga Primer Inggris. Tren ini juga melahirkan model kepemilikan multi klub, di mana satu investor menguasai beberapa klub di berbagai negara. Namun, strategi ini berisiko. Crystal Palace, misalnya, dilarang berlaga di Liga Europa UEFA karena pelanggaran aturan kepemilikan multi klub yang melibatkan pengusaha Amerika, John Textor, yang juga memiliki saham di Olympique Lyon.
Nicolas Moura, analis PitchBook, menjelaskan daya tarik model multi klub: "Memiliki dua atau lebih mesin pencetak uang lebih baik daripada satu." Namun, UEFA tampaknya tidak sepakat dan menjatuhkan sanksi kepada klub-klub yang melanggar aturan. Konflik ini diperkirakan akan semakin kompleks seiring meningkatnya klub-klub dengan struktur kepemilikan multi klub di liga-liga top Eropa.









Tinggalkan komentar