Loker Susah Didapat? Indonesia Krisis Kerja?

Loker Susah Didapat? Indonesia Krisis Kerja?

Redaksibengkulu.co.id – Antrean panjang di job fair dan walk-in interview menjadi pemandangan umum belakangan ini. Fenomena ini bukan sekadar isu, melainkan sinyal kuat krisis lapangan kerja tengah melanda Indonesia. Viral di media sosial, foto dan video menunjukkan ratusan pelamar berebut satu lowongan, bahkan untuk posisi di toko ritel kecil sekalipun. Kasus di Cianjur, Jawa Barat, menjadi contoh nyata betapa sengitnya persaingan perebutan pekerjaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaja Kamdani, mengakui komitmen dunia usaha untuk menyerap tenaga kerja. Namun, realitas berkata lain. Ia menunjuk beberapa faktor penyebab kesenjangan antara pencari kerja dan lowongan yang tersedia.

Loker Susah Didapat? Indonesia Krisis Kerja?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Pertama, dinamika global yang kompleks, khususnya dampak geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, menekan industri padat karya. Pelemahan daya beli masyarakat juga mengurangi permintaan produk manufaktur. Belum lagi, biaya produksi yang tinggi semakin memperparah keadaan. "Indeks PMI Manufaktur Indonesia Juni 2025 turun menjadi 46,9, menunjukkan kontraksi selama tiga bulan berturut-turut," ungkap Shinta.

COLLABMEDIANET

Kedua, transformasi digital, otomatisasi, dan kecerdasan buatan (AI) turut mengurangi lapangan kerja konvensional. Investasi pun bergeser ke sektor padat modal yang menyerap lebih sedikit tenaga kerja. Shinta mencontohkan, investasi Rp 1 triliun pada 2013 mampu menyerap 4.500 pekerja, sementara di kuartal I 2025 hanya 1.277 orang. "Kita perlu mempersiapkan talenta yang terampil dan terlatih untuk sektor-sektor baru," tegasnya.

Ketiga, kendala regulasi turut menghambat pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Iklim investasi yang kondusif sangat dibutuhkan untuk mendorong ekspansi usaha. "Ini bukan darurat, tapi ‘wake-up call’. Kita perlu reformasi struktural pasar kerja, tata ekosistem investasi, dan tingkatkan kemampuan kerja," ujar Shinta.

Shinta mengingatkan, kondisi ini bukan sekadar kekurangan tenaga kerja, melainkan ketidaksesuaian struktural di pasar kerja. Jika tak segera diatasi, daya saing Indonesia akan terancam.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar