Redaksibengkulu.co.id – Gejolak di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia mendadak melonjak tajam hingga 10%, mendorong minyak mentah Brent menyentuh level US$ 80 per barel pada Minggu (XX/XX). Pemicu utamanya? Keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz pasca-serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya, memicu kekhawatiran krisis pasokan global yang berpotensi mendorong harga hingga US$ 100 per barel.
Kenaikan drastis ini bukanlah tanpa peringatan. Sejak Jumat pekan lalu, harga minyak telah menunjukkan tanda-tanda lonjakan, mencapai US$ 73 per barel—level tertinggi sejak Juli tahun sebelumnya. Eskalasi kekhawatiran akan serangan AS ke Iran terbukti menjadi kenyataan pada Sabtu, sehari setelah lonjakan awal tersebut, yang kemudian disusul dengan penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Penutupan Selat Hormuz, jalur maritim vital yang menjadi koridor bagi sekitar 20% pasokan minyak global, menjadi faktor krusial di balik meroketnya harga. Langkah Iran ini secara langsung mengancam kelancaran distribusi energi dunia, mengingat betapa sentralnya selat tersebut dalam rantai pasok minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair.

Related Post
Ajay Parmar, Direktur Energi dan Penyulingan di ICIS, menegaskan bahwa meskipun aksi militer turut memicu kenaikan, "faktor kuncinya adalah penutupan Selat Hormuz." Ia menambahkan, "Kami memperkirakan harga akan dibuka jauh lebih dekat ke US$ 100 per barel dan mungkin melebihi level tersebut jika kita melihat gangguan yang berkepanjangan di Selat." Ancaman ini bukan isapan jempol, mengingat sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak raksasa, dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman melalui selat tersebut, menyusul peringatan keras dari Teheran agar kapal-kapal tidak melewati jalur air vital itu.
Implikasi dari penutupan ini sangat besar. Meskipun ada beberapa infrastruktur alternatif yang dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, gangguan berkepanjangan diperkirakan akan mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah antara 8 hingga 10 juta barel per hari akibat keterlambatan pengiriman yang masif.
Menanggapi potensi krisis ini, Ekonom energi Rystad, Jorge Leon, mengemukakan bahwa pengalihan aliran melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi dan pipa Abu Dhabi dapat menjadi opsi mitigasi. Namun, efektivitasnya dalam menutupi defisit sebesar itu masih menjadi pertanyaan besar, mengingat skala volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz. Situasi ini menempatkan pasar energi global dalam ketidakpastian tinggi, dengan prospek harga minyak yang terus melonjak jika ketegangan di Timur Tengah tidak mereda.









Tinggalkan komentar