Pipa Minyak Saudi Lumpuh Total! Dalang Terkuak?

Author Image

Hadi Wibawa

13 September 2026, 00:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Jaringan pipa minyak East-West milik Arab Saudi yang membentang sepanjang 1.200 kilometer (km) terpaksa ditutup sementara setelah menjadi sasaran serangan drone pada Jumat (11/9/2026) lalu. Insiden ini secara efektif menghentikan aliran ekspor minyak Saudi melalui jalur strategis tersebut, memicu kekhawatiran di pasar energi global.

Mengutip laporan Al Jazeera, drone yang melancarkan serangan dilaporkan berasal dari arah Irak. Hingga kini, pemerintah Arab Saudi tengah gencar melakukan penyelidikan mendalam, namun belum ada satu pun kelompok yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas aksi sabotase ini. Rekaman video yang beredar dari lokasi kejadian menunjukkan kepulan asap tebal membubung dari salah satu bagian jaringan pipa. Tak hanya itu, sejumlah peralatan vital yang digunakan untuk mengoperasikan jaringan pipa juga dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat serangan tersebut.

Pipa Minyak Saudi Lumpuh Total! Dalang Terkuak?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

East-West Pipeline merupakan salah satu urat nadi penting bagi ekspor energi Arab Saudi. Keberadaan jalur ini menjadi semakin krusial di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, yang kerap mengganggu lalu lintas Selat Hormuz. Pipa ini membentang dari ladang minyak Abqaiq di bagian timur Saudi hingga Pelabuhan Yanbu di Laut Merah di bagian barat. Serangan drone dilaporkan menghantam jaringan pipa di wilayah Riyadh dan Madinah, menyebabkan korban luka dan kerusakan signifikan. Saudi Aramco, perusahaan minyak yang mayoritas sahamnya dimiliki pemerintah Arab Saudi, merupakan operator jaringan pipa ini. Kementerian Energi Saudi menyatakan penutupan pipa adalah langkah pencegahan yang diperlukan.

Dari Mana Serangan Berasal?

Kantor Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, telah mengonfirmasi bahwa serangan drone tersebut berasal dari Provinsi Maysan di tenggara Irak. Meskipun demikian, baik pemerintah Arab Saudi maupun Irak belum secara eksplisit mengidentifikasi kelompok yang diduga berada di balik serangan. Irak sendiri diketahui menjadi basis operasi sejumlah kelompok bersenjata yang disokong oleh Iran.

Analis kebijakan keamanan dan pertahanan terkemuka, Wolfgang Pusztai, menduga kuat bahwa serangan terhadap jaringan pipa minyak Saudi ini kemungkinan besar merupakan perintah langsung dari Teheran. "Saya yakin serangan ini kemungkinan besar merupakan perintah dari Teheran," kata Pusztai. Ia menambahkan, dari sudut pandang Teheran, aksi ini merupakan bentuk dukungan terhadap tujuan perang Houthi di Yaman, yaitu agar Arab Saudi menarik diri dari konflik tersebut.

Menurut Pusztai, kelompok-kelompok yang didukung Iran memperhitungkan bahwa semakin besar tekanan yang dirasakan Arab Saudi akibat serangan di wilayahnya, semakin besar pula kemungkinan Saudi akan menarik diri dari Yaman. Kelompok Houthi, yang terlibat dalam perang melawan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, memang dikenal luas mendapat dukungan penuh dari Iran.

Lebih lanjut, Pusztai juga menyoroti dampak strategis serangan ini. "Di sisi lain, hal ini tentu semakin memperkuat blokade Iran terhadap Selat Hormuz karena Teheran tidak lagi membiarkan Arab Saudi melewati Selat Hormuz melalui jalur alternatif," ujarnya. Ia menyimpulkan bahwa insiden ini memberikan sinyal yang jelas kepada Arab Saudi, dan mungkin negara-negara Teluk lainnya, bahwa Iran tidak dapat dipercaya.

Related Post