Redaksibengkulu.co.id, Cilacap – Sebuah terobosan signifikan dalam industri energi dan penerbangan telah diumumkan. PT Pertamina Patra Niaga, melalui Kilang Cilacap, kini tengah serius menggarap proyek pengolahan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Inisiatif ini tidak hanya menjanjikan solusi energi berkelanjutan tetapi juga mengoptimalkan limbah rumah tangga dan industri, termasuk dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, dalam acara Pertamina Media Xpose di Cilacap, Jawa Tengah, belum lama ini, menegaskan komitmen perusahaan. "Kami melihat potensi besar dari minyak jelantah untuk diubah menjadi avtur yang lebih bersih dan ramah lingkungan," ujarnya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pertamina untuk mendukung transisi energi hijau dan mengurangi emisi karbon di sektor aviasi, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah yang selama ini kurang termanfaatkan.

Untuk memastikan pasokan UCO yang berkelanjutan dan masif, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan dua skema bisnis yang komprehensif. Skema pertama menyasar langsung masyarakat dan komunitas. Melalui penyediaan fasilitas khusus seperti dispenser pengumpul UCO (drop box) yang ditempatkan di berbagai lokasi strategis, termasuk di area kilang dan Marketing Operation Region (MOR), masyarakat diajak berpartisipasi aktif. "Ada dispenser-dispenser untuk mengumpulkan ya barangkali pernah lihat baik itu di kilang maupun di MOR, dikumpulkan," jelas Hermawan. Dalam skema ini, harga pembelian minyak jelantah dari masyarakat mencapai Rp 6.000 per liter, memberikan insentif ekonomi sekaligus edukasi lingkungan.
Also Read
Namun, Hermawan mengakui bahwa pengumpulan berbasis komunitas rumah tangga memiliki keterbatasan dalam kecepatan dan volume pasokan. Oleh karena itu, skema kedua, yaitu antarbisnis (business-to-business atau B2B), diimplementasikan untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang lebih masif. Pertamina Patra Niaga menggandeng berbagai pihak strategis, termasuk pelaku usaha sektor HoReKa (Hotel, Restoran, Kafe), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melaksanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Kemudian juga skema business-to-business, jadi dari SPPG, HoReKa, KDMP," tambahnya. Harga pembelian UCO dalam skema B2B ini ditawarkan lebih tinggi, mencerminkan volume dan kualitas pasokan yang lebih terjamin.
Dengan strategi ganda ini, Pertamina Patra Niaga tidak hanya berhasil menciptakan nilai tambah dari limbah, tetapi juga membangun ekosistem sirkular yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dan pelaku usaha. Proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian energi yang berkelanjutan dan berkontribusi pada pencapaian target emisi nol bersih di Indonesia.




