Singapura Manjakan Warga: Rp 1 Miliar per Anak!

Author Image

Hadi Wibawa

26 Agustus 2026, 02:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Singapura mengambil langkah berani dengan mengumumkan serangkaian kebijakan baru yang berfokus pada dukungan keluarga dan perkembangan anak. Salah satu kebijakan paling mencolok adalah rencana pemberian tunjangan finansial yang fantastis, mencapai hampir Rp 1 miliar (sekitar S$70.000) untuk setiap anak warga negara Singapura hingga usia 17 tahun. Kebijakan revolusioner ini digadang-gadang sebagai upaya mendasar untuk mengatasi krisis angka kesuburan (fertility rate) yang telah lama menghantui negara kota tersebut, sekaligus mendorong pasangan untuk memiliki lebih banyak keturunan.

Data terbaru menunjukkan urgensi langkah ini. Dikutip dari The Straits Times, jumlah kelahiran bayi di Singapura pada tahun 2025 anjlok ke titik terendah sejak kemerdekaan, dengan kurang dari 30.000 kelahiran. Laporan Pendaftaran Kelahiran dan Kematian 2025 dari Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan Perbatasan (ICA) mencatat hanya 29.864 bayi lahir pada tahun tersebut, menurun signifikan 11,4% dari 33.703 kelahiran pada tahun 2024. Parahnya, selisih antara angka kelahiran dan kematian kini hanya 3.365, menjadi yang terendah sepanjang sejarah, jauh berbeda dari selisih 22.323 pada tahun 2015.

Singapura Manjakan Warga: Rp 1 Miliar per Anak!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Angka Kesuburan Total (Total Fertility Rate/TFR) penduduk Singapura memang menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan selama beberapa dekade. TFR yang sempat berada di angka 1,41 pada tahun 2001, saat skema Baby Bonus pertama kali diperkenalkan, terus merosot menjadi 1,2 pada tahun 2011, dan kini mencapai titik terendah baru di angka 0,87 pada tahun 2025. Meskipun pemerintah sebelumnya telah menggelontorkan berbagai insentif yang berfokus pada kelahiran selama lebih dari 20 tahun, dampaknya minim. Fenomena warga Singapura yang memilih melajang atau pasangan menikah yang tidak memiliki anak justru semakin marak.

Menyadari kegagalan pendekatan sebelumnya, pemerintah Singapura kini melakukan pergeseran paradigma. Dari semula hanya memberikan insentif kelahiran, fokus beralih ke dukungan komprehensif terhadap peran sebagai orang tua. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang benar-benar ramah keluarga, mulai dari mengatasi kekhawatiran orang tua muda mengenai pendidikan, perawatan anak, hingga masalah perumahan. "Kami punya tujuan untuk lebih dari sekadar perbaikan bertahap atau perubahan pada skema individual. Kami ingin melakukan perubahan mendasar dalam hal cara kami mendukung keluarga," tegas Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam pidato Rapat Umum Hari Nasional ketiganya, Minggu (23/8).

Pergeseran strategi ini diwujudkan melalui "SG Child Support Package" senilai S$62.000. Paket tunjangan anak yang baru ini akan diperluas untuk mencakup semua anak Singapura yang lahir pada tahun 2026, atau yang berusia satu hingga 17 tahun pada tahun yang sama. Rincian paket tersebut mencakup: Baby Gift sebesar S$10.000 dalam bentuk tunai, Child Credits senilai S$32.000, hibah awal Child Development Account (CDA) sebesar S$5.000, kontribusi pendampingan dari pemerintah ke CDA hingga S$5.000, serta top-up sebesar S$10.000 ke rekening Post-Secondary Education Account (PSEA) anak.

Secara keseluruhan, melalui paket ini, setiap anak Singapura diperkirakan akan menerima dukungan finansial senilai hampir S$70.000, setara dengan sekitar Rp 976,21 juta (dengan kurs Rp 13.945). Angka ini merupakan peningkatan signifikan dari dukungan finansial langsung yang sebelumnya diterima orang tua, yang berkisar antara S$27.500 hingga S$56.500 per anak, tergantung urutan kelahiran.

Tidak hanya itu, PM Wong juga mengumumkan penambahan cuti untuk mengurus anak. Pemerintah bahkan akan menanggung biaya semua cuti terkait anak yang diatur dalam undang-undang, hingga batas penggantian tertentu, guna meringankan beban finansial para pengusaha. Ia juga secara khusus meminta para pemberi kerja untuk turut berperan aktif dengan mendukung staf yang merupakan orang tua, menekankan bahwa menjadi orang tua seharusnya tidak pernah menjadi hambatan dalam kemajuan karier seseorang.

Related Post