Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Sebuah visi ambisius mengemuka dari pertemuan antara Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, dengan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. Bertempat di Kantor Kementerian Perdagangan, pembahasan utama mengarah pada upaya menjadikan Indonesia sebagai pusat perdagangan global untuk komoditas kopi, teh, dan kakao, yang disingkat menarik menjadi ‘Koteka’.
Selama ini, perdagangan ketiga komoditas strategis tersebut memiliki acuan harga yang ditetapkan di pasar internasional, dengan Inggris sebagai pusatnya. Namun, Kadin melihat peluang besar bagi Indonesia untuk menggeser dominasi tersebut, setidaknya dimulai dari kopi.
Anindya Bakrie mengungkapkan, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat, terutama di sektor kopi. "Kita menjajaki mungkin nggak misalnya paling tidak mulai dari kopi di mana kita istilahnya nomor 3 terbesar di dunia setelah Brasil, Kolombia, Indonesia, pusat perdagangannya bisa di Indonesia," ujar Anindya di Kemendag, Senin (12/1/2026). Keunggulan ini diperkuat oleh kapasitas produksi Indonesia yang mampu menghasilkan beragam jenis kopi berkualitas, mulai dari Arabika, Robusta, hingga kopi Luwak yang mendunia. Selain itu, pasar konsumsi kopi domestik juga terus berkembang pesat, ditandai dengan menjamurnya merek dan jaringan ritel kopi lokal. Kelengkapan jenis dan kekuatan pasar ini menjadi modal penting untuk membangun pusat perdagangan kopi di dalam negeri.

Related Post
Meski demikian, jalan menuju terwujudnya visi ini diprediksi tidak akan mudah. Proses pengalihan pusat penetapan harga komoditas yang telah mengakar kuat di luar negeri, khususnya di Inggris, akan membutuhkan negosiasi yang alot dan perjuangan yang tidak singkat. Anindya tidak menampik tantangan ini, "Nah tentu ini akan mendapatkan ya bisa dibilang suatu negosiasi sengit karena selama ini selalu ada di misalnya di Inggris," terangnya.
Dunia usaha, melalui jaringan Kadin di daerah dan berbagai asosiasi industri, menyambut baik dan menaruh harapan besar pada peluang perdagangan ‘Koteka’ yang lebih luas ini. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, diperlukan dukungan regulasi yang kuat serta insentif yang memadai agar aktivitas ekspor komoditas unggulan Indonesia ini dapat berlangsung lebih kompetitif di kancah global.









Tinggalkan komentar