Harga Minyak Dunia Mencekik! Ada Apa di Laut Merah?

Author Image

Hadi Wibawa

25 Juli 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id mengabarkan, gejolak harga minyak global kini mencapai puncaknya, dipicu oleh serangkaian serangan terhadap kapal-kapal tanker di dua jalur maritim paling krusial di dunia: Selat Hormuz dan Laut Merah. Kondisi ini secara fundamental mengganggu rantai pasok energi internasional, menciptakan ketidakpastian yang mendalam di pasar komoditas. Jalur perdagangan energi dunia kini benar-benar porak-poranda imbas memanasnya konflik di Timur Tengah.

Aksi-aksi provokatif ini, yang kerap disebut sebagai bagian dari perang ekonomi, memiliki tujuan strategis untuk membatasi pergerakan dan sumber daya lawan. Iran, misalnya, telah secara signifikan meningkatkan serangannya terhadap kapal tanker di Selat Hormuz sepanjang bulan ini, berupaya memperkuat kendalinya atas jalur vital tersebut. Sementara itu, sekutu mereka, kelompok Houthi di Yaman, tidak tinggal diam. Mereka menembaki dua kapal tanker Saudi di Laut Merah, setelah mendeklarasikan embargo maritim terhadap Arab Saudi.

Harga Minyak Dunia Mencekik! Ada Apa di Laut Merah?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Data dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan skala krisis ini: sejak 1 Maret, 61 kapal dagang telah menjadi target serangan di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Insiden tragis ini mengakibatkan 17 pelaut tewas dan puluhan lainnya luka-luka. "Iran dan Houthi secara kolektif telah memberikan pukulan yang sangat signifikan terhadap kepentingan nasional Amerika, perusahaan minyak Amerika, dan tentu saja Arab Saudi. Namun, mereka belum sepenuhnya berhasil menekan ekspor," ujar Dimitris Maniatis, CEO layanan risiko maritim Marisks, seperti dikutip Redaksibengkulu.co.id dari CNBC pada Sabtu (25/7/2026).

Seolah belum cukup, peta perdagangan energi global semakin kusut dengan berkecamuknya konflik antara Rusia dan Ukraina. Perang di Eropa Timur ini menambah lapisan kompleksitas pada krisis pasokan yang sudah ada. Ukraina sendiri mengklaim telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan kapal lainnya yang terafiliasi dengan "armada bayangan" Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam. "Pasar minyak saat ini sedang menghadapi perang di berbagai lini," tegas Helima Croft, kepala strategi komoditas global, menggambarkan situasi yang multi-dimensi.

Imbas langsung dari serangkaian konflik ini terlihat jelas pada harga minyak mentah Brent, patokan global, yang sempat melonjak hingga US$100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7) lalu. Kenaikan ini menjadi indikator nyata kerentanan rantai pasok energi dunia di tengah pusaran konflik bersenjata di berbagai penjuru. Croft menambahkan, "Rusia kini telah memberlakukan larangan ekspor produk dan kilang-kilang mereka telah terpukul sangat parah oleh Ukraina. Rusia adalah salah satu pengekspor produk terbesar, salah satu pengekspor diesel terbesar. Hal ini benar-benar memperketat pasar produk serta pasar minyak mentah." Situasi ini menciptakan tekanan ganda yang mengancam stabilitas harga energi global dalam jangka panjang.

Related Post