The Fed Kunci Suku Bunga: Bitcoin Tetap Perkasa?

Author Image

Hadi Wibawa

31 Juli 2026, 23:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), kembali menetapkan suku bunga acuannya pada level stabil 3,50%-3,75%. Keputusan ini, yang diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2026, menandai kali kelima The Fed menahan laju suku bunga secara beruntun. Meskipun pasar merespons dengan pergerakan yang relatif terbatas, banyak mata tertuju pada bagaimana aset kripto seperti Bitcoin akan bereaksi.

Stabilitas kebijakan moneter ini bukan tanpa dinamika internal. Terdapat perbedaan pandangan di kalangan pejabat The Fed, tercermin dari hasil pemungutan suara 9 berbanding 3. Namun, respons pasar yang cenderung moderat mengindikasikan bahwa keputusan FOMC kali ini telah sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar global.

The Fed Kunci Suku Bunga: Bitcoin Tetap Perkasa?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menyoroti pentingnya kepastian arah kebijakan moneter. "Bagi pasar, yang terpenting bukan hanya apakah suku bunga dinaikkan atau dipertahankan, tetapi juga seberapa besar kepastian yang diberikan terhadap arah kebijakan berikutnya," jelas Aloysia dalam keterangan tertulisnya. Ia menambahkan bahwa kesesuaian hasil FOMC dengan ekspektasi pasar cenderung mengurangi potensi volatilitas akibat kejutan kebijakan.

Aloysia menjelaskan lebih lanjut bahwa kebijakan suku bunga The Fed memiliki jangkauan pengaruh yang luas terhadap pasar keuangan global. Dampaknya terasa pada likuiditas, biaya pendanaan, hingga preferensi investor terhadap aset berisiko. Oleh karena itu, setiap pergeseran arah kebijakan moneter AS secara inheren memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk Bitcoin.

Meski demikian, Aloysia mengingatkan bahwa pergerakan pasar tidak pernah ditentukan oleh satu faktor tunggal. "Keputusan The Fed sering menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Namun, pergerakan pasar tidak ditentukan oleh satu faktor saja," tegasnya. Ia menyarankan investor untuk tetap berpegang pada strategi investasi yang disiplin dan tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga jangka pendek.

Sebagai pendekatan investasi yang relevan di tengah kondisi pasar saat ini, Aloysia merekomendasikan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Dengan berinvestasi secara rutin dan berkala dengan nominal yang tetap, investor dapat mengurangi risiko melakukan pembelian pada satu titik harga tertentu dan meredam dampak volatilitas pasar dalam jangka panjang. "Apa pun strategi yang dipilih, investor tetap perlu Do Your Own Research (DYOR) agar keputusan investasi didasarkan pada pemahaman yang memadai," pungkas Aloysia.

Related Post