Trump Murka, Minyak Dunia Meroket 8%! Ada Apa?

Author Image

Hadi Wibawa

30 Juli 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id mengabarkan, pasar minyak mentah global bergejolak hebat pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh pernyataan keras Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang bersumpah akan membalas Iran atas upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

Mengutip CNBC International, Kamis (30/6/2026), harga minyak mentah berjangka Brent melesat 7,9%, ditutup pada level US$ 90,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tak kalah perkasa, menguat 6,6% dan menetap di angka US$ 84,46 per barel.

Trump Murka, Minyak Dunia Meroket 8%! Ada Apa?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Ancaman Trump muncul setelah Garda Revolusi Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke arah pasukan AS di Timur Tengah. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan, "Kami akan membalas mereka dengan keras." Laporan Axios menyebutkan target serangan adalah pangkalan AS di Yordania, meskipun Komando Pusat AS mengklaim rudal-rudal tersebut berhasil dicegat.

Insiden mengejutkan ini seketika mengakhiri periode jeda pertempuran yang sempat memunculkan harapan akan meredanya ketegangan. Padahal, di awal pekan, harga minyak sempat menunjukkan tren penurunan, seiring dengan sinyal-sinyal perdamaian di kawasan tersebut.

Keraguan terhadap prospek perdamaian juga diungkapkan oleh Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas RBC Capital Market. "Kami tetap sangat ragu bahwa kita berada di ambang terobosan diplomatik besar yang akan menyelesaikan perselisihan nuklir yang memicu perang lima bulan lalu atau memungkinkan normalisasi lalu lintas maritim," ujarnya.

Di sisi lain, eskalasi ketegangan juga terlihat dari serangan drone yang dilancarkan milisi pro-Iran di Irak terhadap fasilitas minyak di Riyadh dan wilayah Timur Arab Saudi. Sebagai respons, Komando Pusat AS melaporkan bahwa pesawat tempur AS dan Arab Saudi melancarkan serangan balasan bersama pada hari Selasa terhadap milisi tersebut.

Tak berhenti di situ, sekutu Iran, kelompok Houthi di Yaman, juga mengklaim telah menargetkan infrastruktur pipa Arab Saudi yang vital. Pipa ini mengangkut minyak ke terminal ekspor Yanbu di Laut Merah, sebuah jalur yang sangat diandalkan Saudi mengingat pengiriman melalui Selat Hormuz kerap terganggu akibat ulah Iran.

Kini, Iran bersama kelompok-kelompok sekutunya, termasuk Houthi, secara agresif berupaya memegang kendali atas lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah bagian selatan. Kedua titik penyempitan (choke point) ini merupakan jalur paling vital bagi distribusi minyak dunia, mengendalikan sebagian besar pasokan energi global.

Sepanjang bulan ini, Iran telah berulang kali melancarkan serangan terhadap tanker minyak yang melintasi Hormuz. Sementara itu, pekan lalu, Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan mengklaim telah menyerang dua tanker di Laut Merah, semakin memperkeruh situasi di jalur pelayaran krusial tersebut.

Related Post