Redaksibengkulu.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara terang-terangan mengancam akan melancarkan serangan masif terhadap infrastruktur vital di Iran. Target utama yang disebutkan adalah jembatan dan pembangkit listrik, sebuah eskalasi ancaman yang muncul di tengah kemandekan negosiasi diplomatik yang berlangsung melalui perantara.
Melalui unggahan di media sosial pada Kamis malam, Trump mengeluarkan peringatan keras. "Militer AS bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran. Jembatan selanjutnya, lalu Pembangkit Listrik," tulisnya, sebagaimana dikutip oleh berbagai sumber pada Jumat (3/4/2026). Ia menambahkan, "Kepemimpinan Iran tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan, CEPAT!" menandakan tuntutan mendesak agar Teheran segera meredakan situasi.

Ancaman ini bukan tanpa preseden. Sebelumnya, Trump sempat mengunggah video yang menunjukkan pemboman sebuah jembatan yang baru dibangun, Jembatan B1, yang menghubungkan Teheran dan Karaj. Jembatan yang sedianya akan dibuka tahun ini untuk lalu lintas sipil tersebut, menurut laporan media pemerintah Iran, telah menyebabkan delapan orang tewas dan 95 lainnya terluka akibat serangan AS.
Also Read
Menanggapi serangan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan dalam sebuah pernyataan, "Menyerang bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa warga Iran untuk menyerah." Pernyataan ini mencerminkan sikap perlawanan Teheran terhadap tekanan militer AS.
Di sisi lain, laporan dari media Iran juga menyebutkan adanya serangan pesawat tak berawak pada Jumat pagi terhadap gudang bantuan Bulan Sabit Merah di Choghadak, provinsi Bushehr selatan, yang mengakibatkan hancurnya dua kontainer. Bushehr sendiri merupakan kota pelabuhan strategis dan lokasi fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir pertama Iran. Selain itu, citra satelit awal pekan ini juga memperlihatkan kepulan asap dari pelabuhan di Qeshm, sebuah pulau Iran yang memiliki posisi vital di Selat Hormuz.
Kendati demikian, Iran dan sekutunya juga tidak tinggal diam. Mereka terus melancarkan serangan terhadap target-target di sekitar Teluk. Kuwait Petroleum Corporation melaporkan bahwa kilang minyak Mina al-Ahmadi miliknya dihantam drone, menyebabkan kebakaran di beberapa unit operasional, meskipun tidak ada korban luka yang dilaporkan oleh kantor berita negara setempat. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi pada Jumat mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat tujuh drone dalam beberapa jam terakhir, demikian menurut laporan kantor berita negara tersebut.
Situasi yang semakin memanas ini menunjukkan bahwa konflik antara AS dan Iran berada di ambang eskalasi yang lebih besar, dengan ancaman militer yang terus meningkat di kedua belah pihak.




