GILA! Raksasa Minyak AS Raup Triliunan Rupiah Tiap Hari!

Author Image

Hadi Wibawa

8 Agustus 2026, 23:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Dua raksasa energi Amerika Serikat, ExxonMobil dan Chevron, baru-baru ini mengumumkan perolehan laba yang mencengangkan. Keuntungan fantastis ini tak lepas dari meroketnya harga minyak global, sebuah kondisi yang diperparah oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS dan Iran.

ExxonMobil, salah satu pemain utama di sektor migas global, berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 14,5 miliar atau setara Rp 259,5 triliun pada kuartal kedua tahun 2026. Angka ini, jika dipecah, berarti perusahaan tersebut mengantongi sekitar US$ 160 juta atau Rp 2,8 triliun setiap harinya. Pencapaian ini bukan hanya melampaui dua kali lipat laba tahun sebelumnya, tetapi juga menandai rekor tertinggi sejak awal konflik Rusia-Ukraina pada tahun 2022, ketika harga minyak dunia juga mencapai puncaknya.

GILA! Raksasa Minyak AS Raup Triliunan Rupiah Tiap Hari!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Tak kalah impresif, Chevron, perusahaan minyak terbesar kedua di AS, melaporkan laba sebesar US$ 12,1 miliar atau sekitar Rp 216,5 triliun. Kenaikan ini sangat signifikan, mencapai empat kali lipat dibandingkan laba kuartal kedua tahun lalu yang hanya US$ 2,5 miliar (Rp 44,7 triliun). Menanggapi fenomena ini, Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, seperti dikutip oleh redaksibengkulu.co.id, menyatakan, "Perusahaan-perusahaan ini benar-benar meraup keuntungan besar karena harga minyak melonjak tajam di seluruh dunia."

Kenaikan harga minyak mentah global yang melampaui 40% sepanjang tahun ini diyakini sebagai dampak langsung dari keterbatasan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang dilanda konflik. Dalam situasi ini, kepemilikan kilang minyak sendiri menjadi kartu AS bagi ExxonMobil dan Chevron, memungkinkan mereka untuk memaksimalkan margin keuntungan.

Lipow memperkirakan bahwa dunia telah kehilangan kapasitas penyulingan sekitar 6 hingga 7 juta barel per hari. Kondisi ini secara otomatis menjadikan kilang-kilang yang masih beroperasi, termasuk milik Exxon dan Chevron, sangat diuntungkan. "Kilang-kilang Exxon dan Chevron beroperasi dengan sangat efisien. Kami melihat margin penyulingan tertinggi untuk produk seperti bensin, bahan bakar jet, dan diesel," jelas Lipow.

Dampak positif ini sangat kentara pada bisnis hilir Chevron, yang mencakup operasional kilang-kilangnya. Segmen ini berhasil membalikkan keadaan dari kerugian US$ 817 juta (Rp 14,6 triliun) pada tahun sebelumnya menjadi keuntungan impresif sebesar US$ 4,9 miliar atau Rp 87,6 triliun. Tren serupa juga terlihat pada raksasa energi lainnya, Shell, yang melaporkan laba hampir US$ 10 miliar atau Rp 178,97 triliun pada kuartal yang sama, lebih dari dua kali lipat keuntungan tahun sebelumnya dan menjadi laba per kuartal tertinggi kedua dalam sejarah perusahaan tersebut.

Lonjakan keuntungan ini menggarisbawahi bagaimana gejolak geopolitik dan dinamika pasokan global dapat secara drastis mengubah lanskap finansial perusahaan-perusahaan energi raksasa, mengubah tantangan menjadi peluang keuntungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Related Post