Redaksibengkulu.co.id – Operasional penerbangan di sejumlah bandara terpaksa lumpuh total pada Senin (7/9/2026) menyusul sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Situasi ini sontak memicu lonjakan signifikan penggunaan transportasi darat, dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI bergerak cepat menambah kapasitas perjalanan dari dan menuju Jakarta untuk mengakomodasi ribuan penumpang yang terdampak.
Gangguan serius ini bermula dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyemburkan abu, mengganggu visibilitas dan keamanan penerbangan. Akibatnya, banyak rute penerbangan dibatalkan atau ditunda, memaksa masyarakat mencari opsi perjalanan lain untuk melanjutkan aktivitas antarkota mereka.

Kereta api, khususnya layanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ), seketika menjadi primadona. Stasiun-stasiun besar seperti Gambir di Jakarta tampak lebih padat dari biasanya, dipenuhi calon penumpang yang berbondong-bondong menuju gerbong. Pemandangan antrean dan mobilitas tinggi menjadi bukti nyata pergeseran preferensi transportasi di tengah krisis ini.
Also Read
Data dari KAI Daop 1 Jakarta menunjukkan peningkatan arus kedatangan pelanggan KAJJ yang mencolok. Tercatat, sebanyak 37.389 pelanggan tiba di wilayah Daop 1 Jakarta pada hari tersebut, melonjak tajam 18,4 persen dibandingkan hari sebelumnya yang hanya mencapai 31.565 pelanggan. Angka ini menggarisbawahi urgensi penambahan layanan.
Menyikapi lonjakan permintaan yang tak terhindarkan, KAI Daop 1 Jakarta tidak tinggal diam. Mereka segera mengambil langkah antisipatif dengan menyediakan total 73.772 kursi KAJJ untuk keberangkatan selama periode 7 hingga 9 September 2026. Kapasitas ekstra ini diharapkan mampu menampung seluruh kebutuhan perjalanan masyarakat yang terdampak penutupan bandara.
Langkah cepat KAI ini menjadi angin segar bagi ribuan pelancong yang jadwal perjalanannya terganggu. Dengan adanya penambahan perjalanan, masyarakat kini memiliki alternatif transportasi yang andal dan aman untuk melanjutkan mobilitas antarkota, setidaknya hingga kondisi penerbangan kembali normal dan sebaran abu vulkanik mereda.




