Trump Tolak Damai Iran, Minyak Dunia Meroket Tajam!

Author Image

Hadi Wibawa

28 September 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Harga minyak dunia menunjukkan lonjakan signifikan lebih dari 1% pada Senin, menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menolak tawaran kesepakatan damai dari Iran. Penolakan ini bertujuan untuk menyelesaikan konflik regional dan membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, yang langsung memicu kekhawatiran di pasar global dan mengerek naik harga komoditas energi.

Menurut laporan Reuters, pada Senin (28/9/2026) pukul 22.02 GMT, harga minyak mentah Brent melonjak US$ 1,82 atau sekitar 1,74%, mencapai US$ 106,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan US$ 1,14 atau 1,23%, berada di level US$ 93,55 per barel. Kenaikan ini mencerminkan respons pasar terhadap ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah.

Trump Tolak Damai Iran, Minyak Dunia Meroket Tajam!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sebelumnya, Iran telah mengajukan proposal untuk membuka kembali jalur pengiriman komersial di Selat Hormuz dalam kurun waktu seminggu. Namun, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Trump. Presiden AS itu berdalih bahwa Iran sengaja terburu-buru mencari kesepakatan damai karena berada dalam posisi yang sangat terdesak akibat tekanan ekonomi dan militer.

"Mereka ingin membuat kesepakatan untuk segera membuka selat tersebut karena berada di ambang kekalahan besar," tegas Trump, seperti dikutip dari BBC. Pernyataan ini semakin memperkeruh suasana diplomasi antara kedua negara yang memang sudah tegang.

Menanggapi pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahan di Telegram, menyatakan bahwa pihaknya akan menunggu tanggapan resmi dari pihak mediator. Araghchi sebelumnya juga sempat mengungkapkan di PBB, New York, bahwa kesepakatan sebenarnya dapat tercapai asalkan syarat-syarat dalam nota kesepahaman (MoU) yang disepakati Juni lalu dipenuhi.

Araghchi mengkritik Trump yang dinilainya kerap melontarkan pernyataan yang bagus namun seringkali kontradiktif. Ia menegaskan kembali bahwa Iran akan menantikan pandangan final dari tim mediator sebelum mengambil langkah lanjutan, menunjukkan kehati-hatian Iran dalam merespons dinamika ini.

Di tengah situasi yang kian memanas ini, laporan dari Wall Street Journal mengindikasikan bahwa Trump sejak awal telah meragukan niat Iran untuk memenuhi tuntutan AS. Bahkan, Trump dikabarkan telah memberikan sinyal kepada stafnya bahwa opsi pengeboman lanjutan sangat mungkin kembali dipertimbangkan, menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik militer yang lebih luas di kawasan tersebut.

Situasi ini terus menjadi sorotan global, dengan pasar energi yang bereaksi sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik maupun militer. Informasi lebih lanjut akan terus diperbarui oleh redaksibengkulu.co.id.

Related Post