Redaksibengkulu.co.id – Ancaman gunungan sampah yang kian mengkhawatirkan di berbagai daerah kini mulai menemukan titik terang. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara serius mendorong percepatan pengembangan teknologi waste to energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Tak tanggung-tanggung, 34 proyek raksasa di 34 kota ditargetkan akan rampung pada periode 2026-2027, mengubah masalah sampah menjadi solusi energi yang krusial.
Krisis sampah bukan lagi isapan jempol belaka. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, hampir seluruh Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia diproyeksikan akan mengalami kelebihan kapasitas paling lambat pada tahun 2028 jika tidak ada langkah terobosan signifikan. "Pengelolaan sampah perkotaan merupakan kegiatan prioritas yang mendapat pantauan langsung Bapak Presiden Prabowo," tegas Yuliot usai meninjau PT Sumber Organik di TPA Benowo, Surabaya, pada Kamis (16/4/2026). Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mencari solusi konkret.

Presiden Prabowo Subianto sendiri, dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, menegaskan urgensi persoalan ini. Ia bahkan berencana meluncurkan "Gerakan Indonesia ASRI" (Aman, Sehat, Resik, Indah) sebagai upaya nasional menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata. "Persoalan sampah ini menjadi masalah. Diproyeksikan hampir semua TPA sampah akan mengalami overcapacity pada tahun 2028, bahkan lebih cepat," ujar Presiden. Untuk memperkuat langkah ini, Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 juga telah diterbitkan sebagai landasan hukum untuk mempercepat penanganan sampah perkotaan melalui pengolahan menjadi energi terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan.
Also Read
Salah satu contoh nyata keberhasilan pengelolaan sampah terpadu dapat dilihat di TPA Benowo, Surabaya. Direktur Utama PT Sumber Organik, Agus Nugroho Santoso, menjelaskan bahwa pihaknya mengelola sekitar 1.600 ton sampah per hari dari masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Berbeda dengan kebanyakan tempat lain yang hanya menangani sampah baru, PT Sumber Organik memiliki keunggulan dengan mengolah timbunan sampah lama agar dapat dimanfaatkan kembali. "Kami mengolah timbunan sampah, baik sampah lama maupun baru, menjadi bahan yang bermanfaat," kata Agus kepada redaksibengkulu.co.id.
Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo, yang diresmikan pada 6 Mei 2021, menjadi bukti nyata potensi ini. Lebih lanjut, di lokasi yang sama, PT Prakarsa Energi Sejahtera (SEP) tengah membangun fasilitas waste to fuel yang inovatif. Fasilitas ini dirancang khusus untuk mengurangi timbunan sampah plastik dan mengubahnya menjadi Bahan Bakar Minyak Terbarukan (BBMT) setara diesel oil.
Proses pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar dilakukan melalui tahapan penyortiran atau handpicking untuk memastikan bahan baku pirolisis berupa plastik murni. Selanjutnya, plastik diproses menggunakan mesin pirolisis dengan teknologi pemanasan yang dilengkapi flue gas treatment system. Sistem ini penting untuk memastikan emisi yang dihasilkan memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan Kementerian Lingkungan. Setelah selesai konstruksi dan beroperasi penuh, pabrik ini diproyeksikan mampu memproduksi BBMT sebesar 60-70 kiloliter per hari, sebuah langkah revolusioner dalam mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi bersih yang berkelanjutan bagi Indonesia.




