Redaksibengkulu.co.id melaporkan, kisah Bakhrani adalah bukti bahwa terkadang, pemutusan hubungan kerja (PHK) justru bisa menjadi pemicu rezeki tak terduga. Setelah dua kali dipecat dari pekerjaan korporatnya, pria ini tidak hanya bangkit, melainkan berhasil membangun kerajaan kuliner di East Village, New York City, dengan omzet fantastis mencapai Rp 2,3 miliar.
Bakhrani kini sepenuhnya mendedikasikan diri pada Nishaan, sebuah restoran yang ia rintis dengan konsep fusi Pakistan-Amerika. Baginya, transisi ini membawa kebebasan dan kendali yang tak pernah ia rasakan sebelumnya di dunia korporat. "Di sini, saya punya ide, dan saya bisa mewujudkannya dalam waktu seminggu," ujar Bakhrani, dikutip oleh Redaksibengkulu.co.id dari CNBC Make It. Ia tak lagi direpotkan dengan rapat bertele-tele atau tarik ulur prioritas dengan atasan, memungkinkan ide-ide inovatifnya terealisasi dengan cepat.

Menu Nishaan mencerminkan perpaduan cita rasa yang berani, terinspirasi dari beragam kuliner yang Bakhrani temukan saat tumbuh besar di Devon, mulai dari India, Pakistan, Polandia, Bosnia, hingga Meksiko. Filosofi dapurnya sederhana: "Tidak pernah ada aturan apa pun untuknya di dapur." Ia bebas bereksperimen, seperti saat menciptakan sandwich chapli kebab dengan daging cincang berbumbu, saus tomat, mayones, dan saus lainnya di atas roti putih. Atau, ketika ia menyempurnakan saus spageti kemasan dengan tambahan bawang, saus pedas, bubuk cabai, dan biji ketumbar.
Also Read
Hidangan andalan Nishaan meliputi Pakistani chopped cheese, taco barbacoa Bihari, dan sandwich ayam tandoori kerbau. Untuk pencuci mulut, tersedia minuman mangga bersoda dan kue corong paratha cokelat Dubai. Pada menu Pakistani chopped cheese, Bakhrani memasukkan daging kebab ke dalam roti lapis, dilengkapi paprika hijau dan bawang bombay yang dipanggang bersama. Daging cincangnya sendiri diracik dengan berbagai rempah, keju pepper jack, dan keju Amerika, kemudian disajikan dalam roti lapis dengan taburan mayones, chutney asam jawa, dan saus jeruk nipis ketumbar. "Saya orang Pakistan, saya orang Amerika. Saya akan merangkul sebagian dari keduanya," jelas Bakhrani, menggambarkan identitas kulinernya.
Perjalanan Bakhrani menuju puncak kesuksesan tidaklah mulus. Ia dipecat dari dua pekerjaan di bidang manajemen produk, namun di saat bersamaan, ia juga sedang merintis Nishaan. Pada tahun 2023, dengan sisa tabungannya, ia mulai berjualan makanan keliling di berbagai kota seperti Dallas, Chicago, dan North Brunswick, New Jersey. Sempat kembali bekerja penuh waktu pada Juli 2024, beberapa minggu kemudian ia mulai berjualan di pasar makanan New York City yang terkenal, Smorgasburg.
Titik balik datang ketika ia berpartisipasi dalam musim ke-18 acara Food Network "The Great Food Truck Race." Bersama dua rekan timnya, Bakhrani berhasil memenangkan kompetisi tersebut dan membawa pulang bagiannya dari hadiah sebesar US$ 50.000. Kemenangan ini memberinya modal untuk menyewa lokasi, instalasi listrik, peralatan, dan biaya renovasi lainnya untuk membuka restoran Nishaan pada bulan Agustus. Seluruh proses ini menelan biaya sekitar US$ 70.000, atau setara dengan Rp 1,19 miliar (dengan asumsi kurs Rp 17.089).
Hanya dalam beberapa bulan, tepatnya pada November, bisnis Nishaan telah menghasilkan pendapatan sekitar US$ 140.000, atau sekitar Rp 2,39 miliar. Ironisnya, pada bulan yang sama, Bakhrani kembali diberhentikan dari pekerjaannya di dunia korporat. "Ini sebuah pertanda. Aku memang tidak ditakdirkan untuk berada di dunia korporat lagi," pungkasnya, menegaskan tekadnya untuk sepenuhnya berlabuh di industri kuliner yang telah memberinya kebebasan dan kesuksesan luar biasa.




