Redaksibengkulu.co.id – Ekonomi Tiongkok menunjukkan sinyal perlambatan signifikan pada kuartal kedua tahun 2026, mencatat pertumbuhan terendah dalam tiga tahun terakhir. Angka pertumbuhan yang hanya mencapai 4,3% ini jauh di bawah ekspektasi, utamanya dipicu oleh kelesuan konsumsi rumah tangga yang turut menekan kinerja sektor manufaktur dan ekspor di tengah ketidakpastian global.
Perlambatan ini menjadi sorotan serius mengingat target pertumbuhan tahunan yang ditetapkan pemerintah Tiongkok berada pada rentang 4,5% hingga 5%. Data menunjukkan, penjualan ritel hanya mampu tumbuh 1%, sementara produksi industri sedikit lebih baik dengan kenaikan 5,3% hingga akhir Juni 2026. Angka-angka ini mengindikasikan ketergantungan besar pasar manufaktur Tiongkok terhadap permintaan global, yang kini terganggu oleh gejolak geopolitik, termasuk ketidakpastian akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat.

Dampak dari kondisi ini sudah mulai terasa di berbagai sektor. Sejumlah importir Tiongkok yang melayani pasar Eropa melaporkan penurunan pendapatan yang signifikan sejak awal tahun, seiring dengan anjloknya penjualan perusahaan mereka. Di sektor properti, Tiongkok juga menghadapi krisis serius akibat kelebihan pasokan (oversupply) perumahan, yang semakin memperparah tekanan ekonomi.
Also Read
"Selain pengeluaran penting untuk makanan, saya berhemat sebisa mungkin. Saya belum membeli sehelai pakaian pun selama enam bulan," ungkap Jane Hou, seorang pelaku usaha impor dari Tiongkok Timur, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (15/7/2026). Pernyataan ini mencerminkan bagaimana masyarakat mulai menahan diri dalam berbelanja, yang pada gilirannya memperlambat roda ekonomi.
Meskipun demikian, secara kumulatif, perekonomian Tiongkok masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,7% sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Angka ini masih berada dalam target yang ditetapkan, sehingga mengurangi urgensi untuk segera meluncurkan stimulus fiskal besar-besaran.
Menanggapi situasi ini, Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menyoroti bahwa perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan Partai Komunis Tiongkok. Pertemuan tersebut diharapkan akan membahas kondisi ekonomi terkini dan menyesuaikan kebijakan untuk memastikan pertumbuhan tetap sesuai rencana.
Zhang menambahkan, tantangan yang lebih besar bagi Tiongkok bukanlah semata-mata laju pertumbuhan, melainkan komposisinya. Ia memperkirakan bahwa pertemuan Politbiro kemungkinan akan mengisyaratkan defisit fiskal yang lebih luas, mengingat sektor ekspor masih menunjukkan kekuatan.
"Pemerintah tampaknya enggan menghabiskan sumber daya fiskal dan menumpuk utang. Terdapat konsensus umum di antara para pembuat kebijakan dan peneliti bahwa Tiongkok perlu meningkatkan permintaan domestik. Tetapi tidak ada konsensus tentang bagaimana cara melakukannya," pungkas Zhang, menggarisbawahi dilema kebijakan yang dihadapi Beijing dalam menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas fiskal.




