Gawat! Harga Minyak Terbang, Perang Hormuz Makin Panas!

Author Image

Hadi Wibawa

10 Agustus 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Pasar energi global kembali bergejolak hebat. Harga minyak mentah dunia merangkak naik mendekati US$ 85 per barel pada Senin (10/8/2026), dipicu oleh ketidakpastian yang kian memuncak di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini, yang menjadi urat nadi logistik energi dunia, masih tertutup sebagian akibat sikap keras Iran yang menuntut persyaratan dari Amerika Serikat (AS).

Data terbaru dari Reuters menunjukkan, minyak mentah Brent melonjak US$ 1,20 atau 1,44%, mencapai US$ 84,79 per barel pada pukul 22:06 GMT (05:06 WIB). Tak ketinggalan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat signifikan, naik US$ 1,12 atau 1,08%, menembus angka US$ 79,29 per barel. Kenaikan ini mengindikasikan kekhawatiran serius pasar terhadap potensi gangguan pasokan di tengah tensi geopolitik yang terus memanas.

Gawat! Harga Minyak Terbang, Perang Hormuz Makin Panas!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Pemicu utama gejolak ini adalah penolakan Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk membuka penuh Selat Hormuz. Mereka bersikukuh bahwa akses pelayaran tidak akan dipulihkan sepenuhnya sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi serangkaian persyaratan, termasuk kompensasi atas kerugian yang diakibatkan oleh konflik. Dilansir dari laporan AFP, IRGC secara tegas menyatakan, "Selat ini kini sebenarnya merupakan medan perang bagi kami, bukan sekadar jalur perairan," menggarisbawahi strategi mereka untuk mempertahankan penutupan hingga tuntutan dipenuhi.

Meskipun ada upaya diplomatik, termasuk pembahasan dengan Oman terkait manajemen lalu lintas selat, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pembukaan kembali Hormuz sepenuhnya masih bergantung pada pemenuhan syarat-syarat lain serta ganti rugi atas pelanggaran kesepakatan bulan Juni. Araghchi juga membantah keras adanya negosiasi langsung dengan Washington, menjelaskan bahwa komunikasi antara kedua belah pihak hanya terjadi melalui perantara.

Situasi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda ini menempatkan pasar energi global dalam posisi rentan, dengan prospek harga minyak yang terus berfluktuasi seiring dinamika geopolitik di kawasan strategis tersebut.

Related Post