Redaksibengkulu.co.id – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) kembali menunjukkan taringnya dalam perburuan cadangan energi nasional. Anak perusahaan raksasa migas pelat merah ini, PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender, baru saja meneken Kontrak Kerja Sama (KKS) atau Production Sharing Contract (PSC) untuk Wilayah Kerja (WK) Lavender. Penandatanganan ini membuka babak baru eksplorasi migas di area seluas lebih dari 8.200 kilometer persegi yang membentang di Sulawesi Selatan dan Tenggara, dengan harapan besar akan penemuan cadangan migas baru yang signifikan.
WK Lavender memiliki total luas 8.206,95 kilometer persegi, mencakup wilayah lepas pantai (offshore) dan daratan (onshore) Sulawesi Selatan, serta lepas pantai Sulawesi Tenggara. Komitmen pasti yang disepakati dalam PSC ini tidak main-main, mencapai US$ 2,8 juta. Dana tersebut akan dialokasikan untuk serangkaian kegiatan eksplorasi intensif selama tiga tahun pertama, meliputi Studi Geologi dan Geofisika (G&G), akuisisi Seismik 2D sepanjang 100 km, dan Seismik 3D seluas 200 km persegi.

Momen penting penandatanganan PSC WK Lavender ini berlangsung dua tahap. Direktur PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender, Ruby Mulyawan, bersama Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, membubuhkan tanda tangan di Jakarta pada 11 Februari 2026. Kemudian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, turut meresmikan kontrak ini pada 17 Maret 2026, menandai dimulainya secara resmi kegiatan eksplorasi migas di wilayah strategis tersebut. Ruby Mulyawan mengungkapkan, WK Lavender menjadi wilayah kerja baru keenam yang berhasil ditandatangani oleh anak perusahaan PHE sejak tahun 2023. Ini adalah bukti nyata dari komitmen dan agresivitas PHE dalam memperluas portofolio eksplorasi demi menemukan cadangan minyak dan gas baru di Indonesia.
Also Read
"Ketahanan energi nasional bukan pilihan, tapi keharusan. PHE berdiri di garis depan untuk memastikan produksi migas tetap terjaga hari ini, sambil menyiapkan energi masa depan Indonesia," tegas Ruby Mulyawan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi peran krusial PHE dalam mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan investasi di sektor hulu migas, demi memperkuat ketahanan energi nasional.
Perolehan Wilayah Kerja Lavender ini melalui mekanisme penawaran langsung dalam Indonesia Petroleum Bidding Round (IPBR) Tahap 2 Tahun 2025. PSC WK Lavender akan menggunakan skema Cost Recovery dengan jangka waktu kontrak selama 30 tahun. Sebelum penandatanganan, kontraktor telah memenuhi seluruh kewajiban finansial yang ditetapkan, termasuk pembayaran bonus tanda tangan sebesar US$ 200.000 dan penyerahan jaminan pelaksanaan kepada Pemerintah melalui SKK Migas.
Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE berkomitmen penuh untuk terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas dengan berpegang teguh pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Lebih lanjut, PHE juga menerapkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery, memastikan pencegahan fraud, dan menjaga perusahaan bersih dari praktik penyuapan melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah terstandarisasi ISO 37001:2016. "PHE terus mengembangkan pengelolaan operasi yang prudent dan excellent di dalam dan luar negeri secara profesional untuk mewujudkan pencapaian menjadi perusahaan minyak dan gas bumi kelas dunia yang Environmentally Friendly, Socially Responsible dan Good Governance," tutup Ruby.




