TERUNGKAP! Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp 17.100 T?

Author Image

Hadi Wibawa

15 April 2026, 02:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran diperkirakan akan menelan biaya yang jauh melampaui angka resmi yang dirilis pemerintah. Analisis terbaru memprediksi total pengeluaran untuk perang ini berpotensi mencapai US$ 1 triliun, atau setara dengan Rp 17.100 triliun, jika menggunakan kurs Rp 17.100 per dolar AS.

"Saya yakin perang Iran akan mencapai US$ 1 triliun," ungkap Linda Bilmes, seorang akademisi terkemuka dari Universitas Harvard, dalam sebuah wawancara internal yang dikutip oleh CNBC International pada Selasa (14/4/2026). Pernyataan ini muncul di tengah laporan Pentagon kepada Kongres yang menyebutkan bahwa operasi gabungan AS-Israel melawan Iran telah menghabiskan US$ 11,3 miliar hanya dalam enam hari. Namun, Bilmes menilai angka tersebut belum mencerminkan kondisi riil di lapangan.

TERUNGKAP! Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp 17.100 T?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menurut perkiraan Bilmes, biaya jangka pendek konflik ini bisa mencapai US$ 2 miliar per hari selama 40 hari berturut-turut. Angka ini mencakup pengeluaran untuk amunisi, pengerahan pasukan, serta kerugian akibat kerusakan aset militer. Ia menjelaskan bahwa biaya riil jangka pendek sebenarnya bisa lebih tinggi dari yang dihitung Pentagon, karena laporan resmi cenderung menggunakan nilai lama barang-barang militer, bukan harga terkini untuk mengganti aset yang hilang atau rusak, yang bisa jauh lebih mahal.

"Kesenjangan inilah yang membuat laporan US$ 11,3 miliar sebenarnya lebih mendekati US$ 16 miliar," terang Bilmes. Ia menambahkan, perbedaan ini menunjukkan adanya disparitas yang berkelanjutan antara data yang dilaporkan Pentagon dengan biaya perang yang sesungguhnya.

Selain itu, kontrak multi-tahun dengan perusahaan pertahanan raksasa seperti Lockheed Martin dan Boeing untuk pengadaan rudal pencegat (interceptor) membuat biaya penggantian bagi AS menjadi sangat mahal, yakni sekitar US$ 4 juta per rudal. Angka ini sangat kontras dengan biaya produksi drone Iran yang diperkirakan hanya membutuhkan US$ 30.000 per unit.

Dalam jangka panjang, biaya perang dipastikan akan terus membengkak. Hal ini mencakup rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur sekutu di kawasan Teluk yang mungkin terkena dampak konflik. Di sisi lain, Gedung Putih telah mengajukan permintaan kepada Kongres untuk menaikkan anggaran pertahanan AS menjadi US$ 1,5 triliun. Jika disetujui, ini akan menjadi belanja militer terbesar sejak Perang Dunia II. Angka tersebut bahkan belum termasuk dana cadangan sebesar US$ 200 miliar yang secara khusus diminta Pentagon untuk perang di Iran.

Ancaman Defisit Fiskal AS yang Kian Parah

Pengeluaran militer yang masif ini dikhawatirkan akan memperparah defisit fiskal Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, saat Perang Irak, AS menelan total biaya US$ 2 triliun, namun saat itu utang publik AS masih di bawah US$ 4 triliun. Kondisi saat ini jauh berbeda, di mana utang AS telah melampaui US$ 31 triliun. Sebagian besar utang tersebut merupakan akumulasi dari perang-perang sebelumnya.

"Kita meminjam uang untuk mendanai perang ini dengan suku bunga yang lebih tinggi, di atas basis utang yang sudah jauh lebih besar," jelas Belmis. "Akibatnya, biaya bunga saja akan menambah miliaran dolar pada total biaya perang ini. Berbeda dengan biaya operasional di awal, biaya bunga ini adalah beban yang secara nyata kita wariskan kepada generasi berikutnya."

Related Post