TERUNGKAP! Ini 5 Syarat Iran Agar Selat Hormuz Dibuka Kembali

Author Image

Hadi Wibawa

11 Agustus 2026, 02:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Dalam perkembangan diplomatik yang krusial, Pemerintah Iran mengumumkan bahwa mereka hampir merampungkan kesepakatan dengan Kesultanan Oman. Kesepakatan ini bertujuan untuk membuka koridor pelayaran baru yang vital melalui Selat Hormuz, namun dengan satu syarat besar: Amerika Serikat (AS) harus memenuhi serangkaian tuntutan yang diajukan Teheran. Iran menegaskan bahwa kompensasi, pencabutan sanksi, dan penghentian ancaman militer adalah prasyarat mutlak sebelum jalur perairan strategis tersebut dapat diakses kembali.

Selat Hormuz, yang sebelum konflik menjadi urat nadi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, secara efektif telah terblokir sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Situasi pelik ini telah memicu lonjakan harga minyak global dan memperparah tekanan inflasi di berbagai negara.

TERUNGKAP! Ini 5 Syarat Iran Agar Selat Hormuz Dibuka Kembali
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran melalui selat tersebut berjalan lancar dan konstruktif. Ia menambahkan bahwa kesepakatan mengenai peta rute pelayaran telah tercapai, meskipun beberapa persoalan teknis terkait pernyataan bersama masih dalam tahap penyelesaian. Pembahasan tersebut mencakup mekanisme pelayaran yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim, serta upaya pemberantasan kejahatan di perairan tersebut, dengan layanan yang biasanya disertai pembayaran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Oman telah memasuki tahap akhir. Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa Teheran tidak akan membuka kembali jalur tersebut kecuali AS memenuhi tuntutan yang diajukan. Araqchi juga menjelaskan bahwa Iran dan AS tidak melakukan pembicaraan secara langsung, dan Teheran tidak akan memulainya selama Washington masih melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni lalu. Pesan-pesan antara kedua belah pihak, menurutnya, disampaikan melalui perantara.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapan yang terkesan meremehkan. Menurut Trump, pihaknya hanya melakukan negosiasi "setengah-setengah" dengan Iran. "Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi mereka yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang," ujar Trump, mengisyaratkan bahwa AS tidak terlalu terburu-buru dalam mencapai kesepakatan.

Araqchi menekankan bahwa pembukaan kembali selat tersebut sebagian besar akan bergantung pada kesediaan AS untuk membayar kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan dalam serangkaian serangan besar-besaran terhadap Iran. Sementara itu, Mohammad Baqer Zolqadr, Sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, merinci lima syarat utama yang harus dipenuhi AS:

  1. Mengakhiri Ancaman Lebih Lanjut: AS harus menghentikan segala bentuk ancaman terhadap Iran.
  2. Menghentikan Agresi: AS harus menghentikan agresi terhadap Iran serta sekutu-sekutu Iran di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
  3. Mencabut Blokade Angkatan Laut: AS harus mencabut blokade angkatan lautnya di Teluk.
  4. Mencabut Sanksi: AS harus mencabut seluruh sanksi yang diberlakukan terhadap Iran.
  5. Mencairkan Aset: AS harus mencairkan pembekuan terhadap aset-aset Iran yang berada di luar negeri.

Dilansir dari Reuters, Senin (10/8/2026), masa depan Selat Hormuz, yang krusial bagi perekonomian global, kini berada di persimpangan jalan, sangat bergantung pada dinamika diplomatik yang rumit antara Teheran dan Washington.

Related Post