Redaksibengkulu.co.id – Gejolak di pasar energi global mencapai puncaknya pada perdagangan Selasa lalu, saat harga minyak mentah dunia melonjak tajam, menembus level psikologis US$108 per barel. Minyak mentah Brent, patokan global, menguat 2,9% menjadi US$108,75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tak kalah gesit, melesat 4,4% ke angka US$105,83 per barel. Kenaikan drastis ini dipicu oleh serangkaian peristiwa geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
Pemicu utama lonjakan harga ini adalah keputusan Arab Saudi untuk membatalkan sebagian pengiriman minyak mentah ke pelanggannya di Eropa untuk bulan September. Langkah drastis ini diambil pasca serangan drone yang menargetkan infrastruktur vital, memaksa penutupan jalur pipa Timur-Barat (East-West pipeline). Pipa ini krusial, berfungsi sebagai arteri utama ekspor minyak Saudi dengan kapasitas hingga 7 juta barel per hari, terutama setelah jalur Selat Hormuz menghadapi ketidakstabilan.

Yulia Zhestkova Grigsby, ahli strategi komoditas senior dari Goldman Sachs, menyoroti bahwa insiden serangan terhadap infrastruktur minyak ini merupakan eskalasi konflik yang signifikan. Ia bahkan memperkirakan skenario di mana harga minyak Brent dapat melampaui US$120 per barel. Sementara itu, Riyadh mengklaim penutupan pipa sebagai langkah pencegahan, namun hingga kini belum merilis detail kerusakan atau estimasi durasi gangguan operasional.
Also Read
Kendati demikian, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mencoba meredakan kekhawatiran. Ia meyakini bahwa penghentian operasional jalur pipa tersebut bersifat sementara dan akan kembali normal dalam hitungan hari. "Ini akan menjadi gangguan singkat dan sementara," tegas Wright kepada redaksibengkulu.co.id.
Selain isu Saudi, kenaikan harga minyak juga diperparah oleh penutupan operasi perusahaan minyak nasional Libya di dua ladang minyak dan sebuah stasiun pompa akibat aksi protes internal. Ketegangan semakin meruncing dengan serangan terbaru milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman terhadap kota-kota strategis di Arab Saudi, termasuk Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Situasi di Selat Hormuz pun tak kalah genting; laporan dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut setidaknya dua kapal tanker diserang sejak Sabtu lalu, menambah daftar panjang insiden di jalur pelayaran vital tersebut.
Secara kumulatif, harga minyak global telah melonjak lebih dari 20% dalam satu bulan terakhir. Peningkatan intensitas konflik di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya menjadi faktor dominan yang terus memicu ketidakpastian pasar, mengancam stabilitas ekonomi global dengan harga energi yang kian melambung.




