Minyak Dunia Meroket! Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Global!

Author Image

Hadi Wibawa

10 September 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan lonjakan signifikan, menembus angka psikologis US$101 per barel. Pencapaian ini menandai level penutupan tertinggi sejak bulan Mei lalu, memicu kekhawatiran serius di pasar global. Kenaikan drastis ini, seperti dilaporkan pada Kamis (10/9/2026), tak lepas dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk Persia.

Pada penutupan perdagangan Rabu (10/9), harga minyak berjangka Brent, yang menjadi acuan global, melonjak 3,4% menjadi US$101,21 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga menguat 3,3%, ditutup pada level US$96,05 per barel. Lonjakan ini mengindikasikan respons pasar terhadap ketidakpastian geopolitik yang semakin memanas.

Minyak Dunia Meroket! Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Global!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Pemicu utama kekhawatiran pasar adalah memanasnya tensi militer di Teluk Persia. Dua hari sebelum lonjakan harga, tepatnya pada Selasa (8/9), pasukan militer AS dilaporkan berhasil menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah milik Iran. Aksi ini merupakan respons balasan atas upaya serangan Iran terhadap kapal perang Amerika, meskipun serangan tersebut berhasil dihindari oleh pihak AS. Insiden ini secara langsung meningkatkan risiko gangguan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz yang vital bagi jalur pengiriman minyak global.

Daan Struyven, Kepala Riset Komoditas Global di Goldman Sachs, menyoroti bahwa eskalasi konflik AS-Iran yang kini telah berlangsung selama tujuh bulan terakhir, secara signifikan meningkatkan potensi harga minyak dunia untuk melambung di atas US$120 per barel. Menurut Struyven, ancaman ini utamanya didorong oleh frekuensi peningkatan upaya serangan terhadap kapal-kapal pengangkut di wilayah tersebut.

Meskipun demikian, Struyven juga menjelaskan bahwa skenario dasar yang diperkirakan Goldman Sachs sebelumnya adalah pemulihan ekspor dari Teluk Persia akan terjadi secara bertahap. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa produsen akan beradaptasi dengan gangguan, termasuk mencari rute pengiriman alternatif atau mengembangkan kapasitas pipa tambahan. Namun, ia menambahkan, "Peningkatan ketegangan baru-baru ini justru meningkatkan kemungkinan skenario di mana ekspor akan gagal pulih dalam beberapa bulan mendatang akibat terus berlanjutnya serangan terhadap kapal tanker."

Kenaikan harga minyak ini bukan hanya sekadar angka di pasar komoditas, melainkan juga berpotensi memicu gelombang inflasi global, membebani biaya produksi industri, dan menekan daya beli masyarakat di berbagai negara. Situasi ini menuntut perhatian serius dari para pemimpin dunia dan pelaku ekonomi untuk mencari solusi jangka panjang demi stabilitas pasokan energi dan ekonomi global.

Related Post